Sunday, May 19, 2024
HomeArtikelExperiencedHindari Office Romance?

Hindari Office Romance?

Mengapa perlu menghindari cinta lokasi alias office romance?

Untuk Anda yang menggelengkan kepala, tidak ada salahnya mengintip alasan mereka yang say NO pada office romance, di antaranya:

  1. Cinta jaaaauh lebih indah daripada setumpuk tugas. Sebanyak apapun teori cinta yang ada di kepala kita, cinta menjatuhkan semua teori itu, karenanya disebut jatuh cinta hehehe..
  2. Cinta itu memburamkan. Ini versi lain dari cinta buta. Kantor adalah bangunan yang mengedepankan objektivitas, begitupun afeksi yang diharapkan tumbuh adalah afeksi ?objektif?, general dan rata untuk setiap individu di dalamnya hingga terbentuk tim solid. Sulit untuk melontarkan kritik pada yang tersayang, atau melihat sang pujaan dikritik orang lain. Hmm? bayangkan jika si dia adalah bos Anda, atau sebaliknya 🙂
  3. Cinta adalah perjuangan dan pertempuran. Pertengkaran di rumah/kafe bisa berlanjut di kantor, begitu pula sebaliknya. Perjuangan cinta juga dapat menyeretsi mabuk kebayang menjadi subjektif demi kebahagiaan pasangan atau mengutamakan kepentingan berdua di atas tim.
  4. Penjara cinta. Kita bisa ingin berlama-lama di kantor untuk bersama si dia, bukan untukmengembangkan project!
  5. Putus cinta. Bayangkan Anda harus bersama si dia yang membuat hati sakit, atau harus mempertahankan hubungan untuk menjaga interaksi professional, benar-benar menyiksa dan tidak realistis. Tidak heran beberapa orang dag dig dug jika mendapati anak buahnya terlibat cinta lokasi…

What is love?

Robert Stenberg (1986,1988 dalam Bordens & Horowitz,2008) dalam psikologi merumuskan triangle of love. Menurut Stenberg, cinta terdiri dari intimacy, passion, dan commitment. Intimasi/keintiman merupakan derajat kepercayaan yang terbangun dari self disclosure atau pengungkapan diri pada pasangan. Seperti juga interaksi secara general, semakin kita terbuka, artinya semakin kita percaya dan terbangunlah kedekatan/intimasi. Sementara passion/hasrat terkait dengan aspek emosi lebih dalam dan seksual, sebagai kebutuhan mendasar individu juga. Terakhir adalah komitmen, yang bisa terbentuk secara rela atau tidak alias perjodohan. Karena itu, Stenberg juga menyebutkan beragam tipe cinta salah satunya adalah empty love yang hanya terdiri atas komitmen, tanpa intimacy dan passion.Akan tetapi empty love juga bisa terjadi dalam hubungan pasangan yang sudah tidak sehat dan hanya mempertahankan ikatan karena alasan social atau lainnya.

Bagaimana menurut Anda?

Previous article
Next article
Tyas
Tyas
Career Coach & HR Consultant - "Mind is Magic"
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

konsultankarir on Pilihan, Memilih or Stuck
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Gagal tes psikotest
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Sulit mendapatkan pekerjaan
konsultankarir on Wawancara dan Psikotest
konsultankarir on Kuis:Career Engager
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Selalu Gagal dalam Interview
konsultankarir on Interview Magic
konsultankarir on Pindah Tempat Kerja
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Psikotes Menggambar
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
Angelina Tria Puspita Rini on Memilih Jurusan S2?!
Lisa on Bingung S2
Fiviiya on Psikotes Menggambar
Wendi Dinapis on Memilih Jurusan S2?!
hasenzah on Memilih Jurusan S2?!
yulida hikmah harahap on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Galuh Rekyan Andini on Memilih Jurusan S2?!
burhanuddin on Memilih Jurusan S2?!
Dian Camellyna on Kuis:Career Engager
ABDUL RAHMAN on Wawancara dan Psikotest
Melva Ronauli Pasaribu on S1 Teknik Informatika S2 Bagusnya Apa?
Faradillah Rachmadani M.Nur on Memilih Jurusan S2?!
Taufik Halim on Memulai Bisnis Fotografi
Edo on Bingung S2
konsultankarir on Profesi yang sesuai
konsultankarir on Bingung S2
yaya on Bingung S2
konsultankarir on Memilih karir
dewi on Pindah kerja
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
dewi on Pindah kerja
Tyas on ILKOM atau MTI
hary on ILKOM atau MTI
Kiki Widia Martha on Buku ‘My Passion, My Career’
jalil abdul aziz on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Nono Suharnowo on Bagaimana agar produktif?
syukri on Jujur atau tidak?
Nida shofiya on Bingung pilih fakultas
abdul madjid on Gagal tes psikotest
abdul madjid on Gagal tes psikotest
Aris on Tujuan karir
NURANI on Tujuan karir
dede on Tujuan karir
Rika on Tujuan karir
Djoko triyono on Sulit mendapat pekerjaan
marco on E-mailku unik!
Efik on Memilih karir
noer hasanah on Berminat ke NGO Asing
ilah susilawati on Status dan jenjang karir
yusi bayu dwihayati on Berpindah Karir di Usia 32
dino eko supriyanto on Menyiapkan Business Plan
Gunawan Ardiyanto on 10 Biang Bangkrut UKM
Nahdu on Table Manner
krisnadi on 10 Biang Bangkrut UKM
rani on Table Manner
yuda_dhe on Table Manner
Putrawangsa on Memilih Jurusan S2?!
aira on Time Management
Emi Sugiarti on Sudahkah Anda Peduli?
fitria on Table Manner
Ardiningtiyas on Menuju 'Incompetency Level'
Sri Ratna Hadi on Dari Penjahit ke Penulis
monang halomoan on Program SDM tahunan
merlyn on Ayo, Kreatif!
Silvester Balubun on Table Manner
Avatara on Istimewanya Rasberi
vaniawinona on Table Manner
defianus on Tips Negoasiasi Gaji
Dewi Sulistiono on Meniti Sebatang Bambu
Rena on Tersadar…
Dendi on Ayo, Kreatif!
Denni on Menemukan Mentor