Friday, April 19, 2024
HomePerspectiveArtikelFinding Something to Do (Belajar dari Julie & Julia)

Finding Something to Do (Belajar dari Julie & Julia)

Menemukan sesuatu untuk dikerjakan, kedengarannya simple, tetapi ternyata tidak. Kalau memang simple tentu kamu tidak akan menemukan dirimu sendiri bertanya, “Mau ngapain lagi ya?” Atau tentu kamu familiar dengan kata-kata seperti “Gak tahu mau ngapain…”

Baru saja saya nonton film berjudul Julie & Julia dan cerita tentang dua wanita itu (based on true story) mengkonfirmasikan pada saya bahwa, finding something to do bukanlah sesuatu yang simple. Banyak orang yang enggak tahu mau ngapain, namun ketika sudah menemukan suatu yang menyenangkan untuk kita kerjakan, hasilnya bisa tidak terduga.

Seperti yang terjadi pada Julie dan Julia. Film ini menceritakan tentang dua wanita yang hidup pada waktu dan lokasi yang berbeda, namun kisah hidup yang satu telah menginspirasi yang lain melalui bukunya. Kedua-duanya adalah true story, karena itu mungkin ada yang bisa kita petik darinya.

Awalnya mereka berdua bingung harus mengerjakan apa. Julie Powell (setting tahun 2002 di New York) baru pindah rumah mengikuti suaminya. Kepindahan itu membuat dia harus berganti pekerjaan menjadi customer service di perusahaan pelayanan publik. Setiap hari dia harus mendengarkan banyak keluhan masyarakat tentang pelayanan publik. Julie yang bosan dan stress, berusaha mencari sesuatu yang bisa dijadikan pelarian.

Julia Child (setting tahun 1949) mengikuti suaminya pindah ke Paris dalam rangka tugas kedutaan. Wanita ini bingung mau ngapain, hendak mencari kesibukan di Paris. Suaminya pun membantu dengan menanyakan apa yang dia sukai. Ketika ditanya “What you like to do?” Julia dengan cepat menjawab “Eating.”

Passion-nya terhadap makanan memang tergambar dalam sepanjang film. Ketika baru tiba di Paris yang membuatnya terpesona adalah makanannya. Setiap kali mencobai makanan enak reaksinya berapi-api, sementara suaminya hanya biasa-biasa saja. Sewaktu bertemu dengan adiknya dia menceritakan kecintaannya pada makanan, “All I can tihink of is food…” bahkan ketika tidur dia bermimpi tentang resep-resep masakan. Dia langsung jatuh cinta pada masakan Perancis.

Melihat passion-nya yang luar biasa pada makanan, maka wajar apabila Julia ingin mengerjakan: belajar masak untuk mengisi waktunya di Paris. Dia mencari buku resep masakan Perancis, tetapi tidak satu pun berbahasa Inggris. Dia mengikuti kursus-kursus memasak, bahkan sampai kelas profesional dimana dia selalu dianggap remeh. Namun kekuatan hatinya dan kecintaannya pada makanan telah mengalahkan semua rintangan tersebut.

Passion ini membuat Julia cuek aja meski kepala sekolah memasak yang dimasukinya berulang-ulang mengatakan bahwa dia tidak punya bakat dan tidak mungkin bisa menjadi guru. Cita-cita Julia (yang diperankan oleh Meryll Streep) adalah ingin menjadi guru masak masakan Perancis untuk orang-orang Amerika. Perjalanan Julia berujung pada diterbitkannya sebuah buku yang dianggap buku resep masterpiece untuk masakan Perancis, “Mastering the Art of French Cooking.” Kesuksesan buku ini juga mengantar Julia menjadi host acara memasak di televisi yang menjadi salah satu legenda Amerika.

Julia Child adalah idola Julie Powell. Dia membaca bukunya dan selalu terinspirasi olehnya. Julie senang memasak. Setiap pulang dari pekerjaannya yang membosankan, dia selalu menemukan kebahagiaan dengan memasak. “Di dunia yang serba tidak pasti, ada sesuatu yang pasti, yaitu ketika kamu mencampurkan telur dengan mentega, maka hasilnya adalah kue yang enak,” demikian kira-kira Julie bercerita kepada suaminya, tentang passion-nya pada memasak, dan bagaimana memasak dapat mengangkat dia dari lumpur kebosanan dan stress.

Mengikuti demam blogging yang sedang melanda Amerika, suami Julie mengusulkan agar Julie menulis blog. Kebetulan Julie juga hobby menulis, pernah menulis buku namun tidak pernah diterbitkan. Blog tentang apa? Belajar dari sini dapat diambil hikmah juga bahwa ketika kita ngeblog, sebaiknya memiliki topik yang specific, sehingga blog kita dikaitkan dengan tema tertentu yang kemudian akan mendatangkan orang-orang yang mempunyai minat tertentu itu.

Dari hasil brainstorming dengan suaminya, akhirnya Julie menemukan ide untuk membuat blog berjudul Julie/Julia Project. Julie menantang dirinya untuk memasak 524 resep dalam buku Julia dalam 365 hari. Di dalam blog-nya dia menuliskan catatan harian sepanjang project tersebut. Dia mengaku tidak pernah menyelesaikan apa-apa dalam hidupnya, karena itu dia perlu membuat dateline untuk dirinya sendiri, apalagi setelah dipublish di blog, memberikan tekanan yang lebih besar.

Dan demikianlah. Buat kamu yang punya blog pasti memahami serunya ngeblog, dunia Julie pun menjadi berwarna. Awalnya blog itu tidak ada yang membaca, namun perlahan mulai mendapatkan respon. Setiap kali mendapat komentar senangnya luar biasa. Julie telah menemukan sesuatu untuk dikerjakan, sesuatu yang mengangkat dia dari lumpur rutinitas. Sesuatu yang seru.

Karena konsistensi dan passion-nya, perlahan blog Julie mendapat sambutan luar biasa, bahkan sempat menjadi blog paling populer di Salon.com. Blog-nya hingga hari ini masih bisa dibaca di http://blogs.salon.com/0001399/. Popularitas blog itu pun mengundang media-media tradisional ingin mewawancarai Julie. Sejak dipublikasikan di New York Times tawaran untuk kontrak buku pun berdatangan kepada Julie.

Kisah dua wanita ini menunjukkan, bila kita sudah menemukan sesuatu yang menjadi passion kita, sesuatu yang akan kita kerjakan bahkan tanpa dibayar, sesuatu yang tetap kita kerjakan secara konsisten bahkan ketika kita dianggap tidak mampu, pada akhirnya akan membuahkan hasil yang tidak terduga.

Nah, bagaimana dengan kamu? Asyik kan kalau sudah ketemu something to do?

me
me
silence writer, spiritual traveler...
RELATED ARTICLES

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

konsultankarir on Pilihan, Memilih or Stuck
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Gagal tes psikotest
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Sulit mendapatkan pekerjaan
konsultankarir on Wawancara dan Psikotest
konsultankarir on Kuis:Career Engager
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Selalu Gagal dalam Interview
konsultankarir on Interview Magic
konsultankarir on Pindah Tempat Kerja
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Psikotes Menggambar
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
Angelina Tria Puspita Rini on Memilih Jurusan S2?!
Lisa on Bingung S2
Fiviiya on Psikotes Menggambar
Wendi Dinapis on Memilih Jurusan S2?!
hasenzah on Memilih Jurusan S2?!
yulida hikmah harahap on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Galuh Rekyan Andini on Memilih Jurusan S2?!
burhanuddin on Memilih Jurusan S2?!
Dian Camellyna on Kuis:Career Engager
ABDUL RAHMAN on Wawancara dan Psikotest
Melva Ronauli Pasaribu on S1 Teknik Informatika S2 Bagusnya Apa?
Faradillah Rachmadani M.Nur on Memilih Jurusan S2?!
Taufik Halim on Memulai Bisnis Fotografi
Edo on Bingung S2
konsultankarir on Profesi yang sesuai
konsultankarir on Bingung S2
yaya on Bingung S2
konsultankarir on Memilih karir
dewi on Pindah kerja
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
dewi on Pindah kerja
Tyas on ILKOM atau MTI
hary on ILKOM atau MTI
Kiki Widia Martha on Buku ‘My Passion, My Career’
jalil abdul aziz on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Nono Suharnowo on Bagaimana agar produktif?
syukri on Jujur atau tidak?
Nida shofiya on Bingung pilih fakultas
abdul madjid on Gagal tes psikotest
abdul madjid on Gagal tes psikotest
Aris on Tujuan karir
NURANI on Tujuan karir
dede on Tujuan karir
Rika on Tujuan karir
Djoko triyono on Sulit mendapat pekerjaan
marco on E-mailku unik!
Efik on Memilih karir
noer hasanah on Berminat ke NGO Asing
ilah susilawati on Status dan jenjang karir
yusi bayu dwihayati on Berpindah Karir di Usia 32
dino eko supriyanto on Menyiapkan Business Plan
Gunawan Ardiyanto on 10 Biang Bangkrut UKM
Nahdu on Table Manner
krisnadi on 10 Biang Bangkrut UKM
rani on Table Manner
yuda_dhe on Table Manner
Putrawangsa on Memilih Jurusan S2?!
aira on Time Management
Emi Sugiarti on Sudahkah Anda Peduli?
fitria on Table Manner
Ardiningtiyas on Menuju 'Incompetency Level'
Sri Ratna Hadi on Dari Penjahit ke Penulis
monang halomoan on Program SDM tahunan
merlyn on Ayo, Kreatif!
Silvester Balubun on Table Manner
Avatara on Istimewanya Rasberi
vaniawinona on Table Manner
defianus on Tips Negoasiasi Gaji
Dewi Sulistiono on Meniti Sebatang Bambu
Rena on Tersadar…
Dendi on Ayo, Kreatif!
Denni on Menemukan Mentor