Monday, May 20, 2024
HomeArtikelExperiencedCara terbaik untuk resign

Cara terbaik untuk resign

Saya adalah seorang graphic designer, dan telah memiliki pengalaman bekerja dengan beberapa perusahaan sebelumnya. Saat ini saya bekerja dalam mengelola sebuah website yang bertajuk e-commerce yang produknya berupa voucher dan tiket wisata untuk berlibur.

Yang menjadi permasalahan adalah, saya selalu merasa bahwa pekerjaan saya sekarang ini bukan merupakan bidang saya. Beberapa kali saya merasa tertekan atas pekerjaan yang saya tidak tahu solusinya. Saya ingin beralih lagi ke profesi saya dulu.

Pertanyaan saya adalah:
Bagaimanakah cara saya resign dengan baik-baik tanpa merugikan perusahaan yang baru berdiri dan pemiliknya adalah teman sendiri?

Eka Widyadnyana

Dear Sdr.Eka,

Setidaknya ada tiga isu utama dalam cerita singkat Anda, yakni: (1) mengelola pekerjaan yang tidak tahu solusinya; (2) ingin kembali ke profesi sebelumnya; (3) cara resign secara positif.

Pada isu pertama yakni pekerjaan yang tidak tahu solusinya, apakah yang Anda maksud adalah menemui masalah dalam pekerjaan saat ini dan belum berhasil mengatasinya dengan baik? Pekerjaan dan masalah dalam pekerjaan adalah dua hal yang berbeda, untuk itu, hendaknya Anda identifikasi lebih jernih lagi.

Jika fokus masalah belum jelas (antara pekerjaan atau masalah dalam pekerjaan), maka wajar jika ‘solusi terkonkret’ adalah ingin kembali ke profesi sebelumnya. Hal ini karena Anda telah mengetahui (berpengalaman) yang dapat dikatakan ‘zona nyaman’, meski memiliki tantangan tersendiri juga. Sekali lagi, identifikasi lebih jelas, sehingga keinginan kembali ke profesi sebelumnya tidak bersifat impulsif atau solusi pendek, melainkan pilihan yang tepat, atau lebih spesifik lagi: passion sebenarnya.

Isu ke tiga adalah cara resign yang baik. Pertanyaan Anda menarik karena pemilik perusahaan saat ini adalah teman sendiri, yang kemudian secara implisit terdapat dilema interpersonal antara teman dan rekan kerja. Secara objektif, keinginan untuk resign tanpa merugikan perusahaan adalah dengan memahami dan mengikuti proses resign, seperti mengajukan surat pengunduran diri minimal 1 bulan sebelumnya, melakukan proses alih tugas pada rekan kerja yang akan menggantikan tugas Anda, hingga membantu perusahaan mencari kandidat/pengganti Anda. Akan tetapi, dilema pertemanan ini memerlukan pendekatan yang lebih ‘subjektif’ dalam arti yang positif.

Salah satu tips resign yang baik adalah ‘tidak menghancurkan jembatan’, artinya tetap mempertahankan dan menjalin hubungan baik dengan perusahaan. Hal ini karena ‘sempitnya’ jejaring kerja yang memungkinkan kerjasama di masa mendatang, sekaligus menjaga nama baik di komunitas profesional.

Untuk masalah yang Anda hadapi, kami menyarankan untuk meluangkan waktu secara khusus berbicara dari hati-hati dengan pemiliki perusahaan sekaligus teman Anda. Ada baiknya Anda juga telah berhasil mengidentifikasi masalah yang sebenarnya (isu pertama di atas), atau jika belum, bangunlah komunikasi efektif dengan pikiran terbuka.

Hindari memaksakan ‘masalah’ namun terbukalah atas ‘masalah sesungguhnya’ yang mungkin dapat ditangkap teman Anda (berdasarkan situasi dan jika telah saling mengenal lama, ia pun mengenal Anda secara personal) . Mengapa, karena seringkali masalah sesungguhnya kabur oleh emosi dan kejadian/hal lain yang sebenarnya kita dorong sendiri sebagai pembenaran. Motivasi pembenaran ini wajar dalam konflik karena setiap individu membutuhkan energi positif untuk bertahan dan merasa positif dengan diri sendiri.

Mulailah dengan menceritakan kondisi/kejadian dan sedikit mungkin memberikan penilaian, seperti gagal, tidak kompeten, dsb. Anda juga dapat mengungkapkan perasaan namun berusahalah untuk membahas perasaan tersebut secara objektif, bukan personal. Artinya, Anda perlu ‘keluar’ dari emosi tersebut atau membuat jarak (detachment).

Cobalah pula untuk mengingat kembali apa yang Anda pikirkan, rasakan dan inginkan (semangat) saat memutuskan untuk bekerja di perusahaan ini dan mengelola aktivitas/tugas yang berbeda dari sebelumnya.

Kami harap pembahasan singkat ini dapat membantu Anda, terima kasih.

Salam,

Tim Konsultankarir.com

Tyas
Tyas
Career Coach & HR Consultant - "Mind is Magic"
RELATED ARTICLES

2 COMMENTS

  1. Saya seorang pegawai Adm dan Coordinator SPBU saat ini, perusahaan ini tidak ada SOP yang jelas, system kerja gak ada hitam di atas putih, bahkan Jamsostek, hak cuti karyawan tidak ada. Owner percaya pada manajer yang merupakan teman sekolahnya sejak lama, sementara dia bukan orang manajerial. Emang kerja di sini saya bisa memenuhi kebutuhan meskipun gaji pas-pasan, namun ada uang sampingan. Saya sekarang sudah kerja hampir setahun di sini,umur 30 thn.

    Rasanya saya tidak menikmati pekerjaan ini. Lagipula kondisi perusahaan tidak jelas keuangannya, hampir tidak sanggup membayar utang bank yang terlalu besar, tidak tahu kapan pailit. Sebelumnya saya pernah kerja di perusahaan lain sebagai GA SPV, Staff Accounting . Rasanya kerja di perusahaan dengan SOP jelas dan gaji memuaskan lebih saya sukai seperti saat jadi staff accounting di salah satu perusahaan kertas ,, meskipun gaji pas-pasan tapi lebih jelas.

    Saat ini saya sedang bingung, karena penghasilan saya di sini lebih baik dari sebelumnya. namun saya tidak menikmati pekerjaan ini.

    Mohon petunjuknya.
    Thanks

  2. Dear Sdr.Ronal,

    Secara ideal memang kita menginginkan adanya kesesuaian antara keinginan diri (personal) dengan kondisi kerja (lingkungan), seperti yang Anda ungkapkan yakni SOP yang jelas. Keinginan ini bisa berbeda dengan orang lain yang lebih kuat memiliki karakter seorang artistik, di mana jenis pekerjaan yang terstruktur justru membuat tidak nyaman 🙂

    Kami mendukung Anda untuk mencari karir ideal yang diinginkan, akan tetapi, kami juga menekankan pada prosesnya. Artinya, apabila kondisi saat ini dinilai untuk mempertahankan pekerjaan yang dianggap kurang ideal, maka ini bukan akhir segalanya, melainkan jadikan proses menuju karir ideal. Yang dapat Anda lakukan saat ini di antaranya;

    (a) berdiskusi dengan atasan/pihak yang kompeten terkait SOP, peraturan dan kebijakan perusahaan (pelajari peraturannya dengan cermat, untuk Jamsostek, perusahaan dengan karyawan minimal 10 orang wajib memberikan ini, mohon diingat untuk menjaga motivasi berdiskusi, bukan mengeluh, sehingga dapat terjadi komunikasi yang efektif;

    (b) menggali potensi diri melalui pekerjaan saat ini (stretching), coba perdalam tugas dengan memberikan perhatian lebih detil dan segera mengambil tindakan (koreksi) ketika menemui masalah, bisa juga dengan mencoba mengerjakan tugas dengan cara berbeda tetapi tidak menyalahi SOP. Anda juga dapat menambah skill dengan menawarkan bantuan pada rekan kerja atau singkatnya lihatlah sekitar dan terlibatlah. Tips ini juga dapat mendorong diri kita untuk tidak merasa ‘sendiri’, karena pada dasarnya setiap orang menghadapi tantangan. Harapannya Anda pun mendapatkan inspirasi tak terduga. Anda bisa sejenak menyimak pengalaman dan pandangan menarik Sdr.Kahar S.Cahyono dalam http://konsultankarir.com/2009/12/07/saya-dan-karir/bersiap-menghadapi-phk/

    Semoga pembahasan singkat ini bermanfaat bagi Anda, terima kasih.

    Salam,
    Tim Konsultankarir.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

konsultankarir on Pilihan, Memilih or Stuck
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Gagal tes psikotest
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Sulit mendapatkan pekerjaan
konsultankarir on Wawancara dan Psikotest
konsultankarir on Kuis:Career Engager
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Selalu Gagal dalam Interview
konsultankarir on Interview Magic
konsultankarir on Pindah Tempat Kerja
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Psikotes Menggambar
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
Angelina Tria Puspita Rini on Memilih Jurusan S2?!
Lisa on Bingung S2
Fiviiya on Psikotes Menggambar
Wendi Dinapis on Memilih Jurusan S2?!
hasenzah on Memilih Jurusan S2?!
yulida hikmah harahap on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Galuh Rekyan Andini on Memilih Jurusan S2?!
burhanuddin on Memilih Jurusan S2?!
Dian Camellyna on Kuis:Career Engager
ABDUL RAHMAN on Wawancara dan Psikotest
Melva Ronauli Pasaribu on S1 Teknik Informatika S2 Bagusnya Apa?
Faradillah Rachmadani M.Nur on Memilih Jurusan S2?!
Taufik Halim on Memulai Bisnis Fotografi
Edo on Bingung S2
konsultankarir on Profesi yang sesuai
konsultankarir on Bingung S2
yaya on Bingung S2
konsultankarir on Memilih karir
dewi on Pindah kerja
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
dewi on Pindah kerja
Tyas on ILKOM atau MTI
hary on ILKOM atau MTI
Kiki Widia Martha on Buku ‘My Passion, My Career’
jalil abdul aziz on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Nono Suharnowo on Bagaimana agar produktif?
syukri on Jujur atau tidak?
Nida shofiya on Bingung pilih fakultas
abdul madjid on Gagal tes psikotest
abdul madjid on Gagal tes psikotest
Aris on Tujuan karir
NURANI on Tujuan karir
dede on Tujuan karir
Rika on Tujuan karir
Djoko triyono on Sulit mendapat pekerjaan
marco on E-mailku unik!
Efik on Memilih karir
noer hasanah on Berminat ke NGO Asing
ilah susilawati on Status dan jenjang karir
yusi bayu dwihayati on Berpindah Karir di Usia 32
dino eko supriyanto on Menyiapkan Business Plan
Gunawan Ardiyanto on 10 Biang Bangkrut UKM
Nahdu on Table Manner
krisnadi on 10 Biang Bangkrut UKM
rani on Table Manner
yuda_dhe on Table Manner
Putrawangsa on Memilih Jurusan S2?!
aira on Time Management
Emi Sugiarti on Sudahkah Anda Peduli?
fitria on Table Manner
Ardiningtiyas on Menuju 'Incompetency Level'
Sri Ratna Hadi on Dari Penjahit ke Penulis
monang halomoan on Program SDM tahunan
merlyn on Ayo, Kreatif!
Silvester Balubun on Table Manner
Avatara on Istimewanya Rasberi
vaniawinona on Table Manner
defianus on Tips Negoasiasi Gaji
Dewi Sulistiono on Meniti Sebatang Bambu
Rena on Tersadar…
Dendi on Ayo, Kreatif!
Denni on Menemukan Mentor