Friday, April 19, 2024
HomeArtikelExperiencedBingung, ingin merubah karir

Bingung, ingin merubah karir

Saya seorang Sekretaris. Tahun lalu, saat suami saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan mengejar impian masa kecilnya untuk menjadi pilot, saya mulai menyadari, saya juga ingin bisa bekerja dan melakukan apa yang saya sukai setiap hari. Saya mendapati, saya ternyata tidak terlalu suka bekerja di ‘belakang meja” dan hal yang saya sukai adalah pekerjaan sosial, berhubungan dengan orang banyak, menjadi event organizer, mengajar, dan saya sangat menyukai musik. Saya masih bingung antara memilih untuk mengubah karir menjadi pekerja sosial atau menjadi guru/ guru musik? Saya tahu untuk menjalani salah satu dari dua pilihan itu, saya harus menambah ilmu atau skill saya. Mohon sarannya. Terima kasih.

 

Nenny

Dear Sdr.Nenny,
Setiap orang memiliki kesempatan untuk ‘mengubah karier’ dengan beragam alasan, baik personal maupun lainnya. Yang perlu Anda perhatikan di antaranya:

(a) Karakeristik aktivitas. Perhatikan karakteristik dari aktivitas (kerja) sekarang, dan yang akan dituju (event organizer atau guru musik). Ketiga aktivitas ini memiliki karakter yang berbeda namun terdapat persamaan juga di dalamnya. Bandingkan ketiganya, dan cermatilah poin-poin yang Anda senangi dan merasa nyaman. Buat rangking mulai dari yang paling menyenangkan/memuaskan hingga paling tidak menyenangkan.

(b) Tujuan karir. Sudah saatnya Anda mengidentifikasi tujuan ini dengan tujuan hidup secara luas. Manfaatkan passion secara bijak dan tetapkan komitmen untuk menjalaninya.

(c) Dukungan sosial. Jika Anda cermati cerita perjalanan karir orang lain, dukungan sosial memiliki peran yang penting, terutama dari orang-orang terdekat dan bermakna (orangtua, pasangan, sahabat). Tetapi, untuk mencapai ini terkadang Anda pun harus memperjuangkannya melalui keteguhan dan bukti. Libatkan sedari dini orang terdekat untuk rencana ini. Pilihlah mereka yang Anda percaya dan merasa nyaman. Jika belum merasa nyaman, meskipun percaya, tahan dan pastikan Anda telah nyaman dengan pilihan sendiri sehingga orang lain pun dapat melihat kesungguhan Anda.

Semoga bermanfaat, terima kasih.

Tyas
Tyas
Career Coach & HR Consultant - "Mind is Magic"
RELATED ARTICLES

2 COMMENTS

  1. Saya seorang lulusan D3 Komunikasi. Baru-baru ini saya diterima kerja di sebuah Production House (PH) sebagai Reporter.

    Saya merasa cocok dan nyaman dengan pekerjaan ini,karena sesuai dengan ilmu yang saya dapat dimasa kuliah,pekerjaan ini tidak monoton dan saya sendiri tidak harus berada dibelakang meja yang memang saya kurang sukai.Akan tetapi saya tidak mendapat dukungan dari orang tua,karena pndangan mereka bekerja di PH itu tidak jelas dan tidak menjamin,selain itu pekerjaan sebagai reporter berita waktunya tidak menentu.Kemudian saat saya sudah bekerja di PH tersebut,saya mendapat panggilan dari Bank sebagai Teller,akan tetapi saya tolak karena saya kurang berminat disana,saya takut nanti saya jadi cepat bosan dan tidak fokus bekerja jika dipaksakan.Ketika orang tua saya tahu,mereka marah karena saya menolak pekerjaan di Bank.Menurut mereka pekerjaan di Bank itu menjamin.

    Apa keputusan yang saya buat salah karena saya mengikuti kata hati saya?
    Bagaimana cara meyakinkan orang tua saya agar saya mendapat dukungan pada plihan pekerjaan saya saat ini sebagai reporter,sedangkan orang tua saya pemikirannya agak kolot?
    Apa saya harus menerima pekerjaan di Bank itu biar bisa membuat orang tua saya senang,walaupun saya tidak senang menjalaninya?

    Mohon jawabannya.Terima Kasih.

  2. Dear Echa,

    Anda memahami bahwa pola pikir orangtua berbeda, yang sebenarnya masih menggambarkan pandangan umum di Indonesia. Yang perlu Anda juga pahami adalah tuntutan mereka tentang kepastian dan kemapanan adalah untuk kebaikan serta hasil pembelajaran hidup selama ini :). Untuk itu, pertama, usahakan agar tidak memberikan respon yang negatif terlebih menentang secara frontal. Sikap ini akan memakan energi sekaligus membuat mereka berpikir Anda memang belum yakin dengan pilihan dan hanya terbawa emosi. Tunjukkan ketenangan (memang perlu latihan) sehingga membuka kesempatan dialog lebih positif.

    Ke dua, tunjukkan bukti konkret pada mereka, bukti konkret di sini tidak berarti materi, tetapi bagaimana Anda serius mengelola diri dan masa depan. Jika memungkinkan, ajaklah diskusi tentang ‘sistem pensiun mandiri’ yang ditawarkan perbankan, atau pola menabung yang terkunci dalam jangka waktu tertentu. Jika tidak, tunjukkan saja buktinya dengan sikap santai dan yakin, tetapi tidak menantang. Tindakan ini setidaknya menunjukkan Anda serius akan masa depan sendiri, dan untuk menjaga tabungan tetap ada, bukankah Anda harus bekerja sungguh-sungguh. Harapannya, mereka dapat sedikit menilai positif tentang profesi pilihan Anda. Tunjukkan pula bagaimana Anda bertanggungjawab atas pilihan, seperti meskipun bekerja dengan jam yang ‘zig-zag’ tetapi tetap mampu menjaga kesehatan. Bukti lain, sedikit mungkin, jangan mengeluh, baik terkait tugas, rekan kerja atau lainnya (misal susah berkumpul dengan teman karena sibuk). Selain dapat menurunkan motivasi sendiri, orangtua akan semakin yakin pilihan Anda tidak tepat.

    Anda juga harus menyadari semua ini memerlukan proses, begitu pun orangtua Anda. Dorong dan kuatkan diri Anda untuk memudahkan proses itu. Saat ini, jangan tuntut mereka untuk mengerti, tetapi dengarkan dan yakinkan dengan bukti-bukti yang kecil tetapi signifikan. Semoga bermanfaat, terima kasih.

    Tim Konsultankarir.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

konsultankarir on Pilihan, Memilih or Stuck
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Gagal tes psikotest
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Sulit mendapatkan pekerjaan
konsultankarir on Wawancara dan Psikotest
konsultankarir on Kuis:Career Engager
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Selalu Gagal dalam Interview
konsultankarir on Interview Magic
konsultankarir on Pindah Tempat Kerja
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Psikotes Menggambar
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
Angelina Tria Puspita Rini on Memilih Jurusan S2?!
Lisa on Bingung S2
Fiviiya on Psikotes Menggambar
Wendi Dinapis on Memilih Jurusan S2?!
hasenzah on Memilih Jurusan S2?!
yulida hikmah harahap on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Galuh Rekyan Andini on Memilih Jurusan S2?!
burhanuddin on Memilih Jurusan S2?!
Dian Camellyna on Kuis:Career Engager
ABDUL RAHMAN on Wawancara dan Psikotest
Melva Ronauli Pasaribu on S1 Teknik Informatika S2 Bagusnya Apa?
Faradillah Rachmadani M.Nur on Memilih Jurusan S2?!
Taufik Halim on Memulai Bisnis Fotografi
Edo on Bingung S2
konsultankarir on Profesi yang sesuai
konsultankarir on Bingung S2
yaya on Bingung S2
konsultankarir on Memilih karir
dewi on Pindah kerja
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
dewi on Pindah kerja
Tyas on ILKOM atau MTI
hary on ILKOM atau MTI
Kiki Widia Martha on Buku ‘My Passion, My Career’
jalil abdul aziz on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Nono Suharnowo on Bagaimana agar produktif?
syukri on Jujur atau tidak?
Nida shofiya on Bingung pilih fakultas
abdul madjid on Gagal tes psikotest
abdul madjid on Gagal tes psikotest
Aris on Tujuan karir
NURANI on Tujuan karir
dede on Tujuan karir
Rika on Tujuan karir
Djoko triyono on Sulit mendapat pekerjaan
marco on E-mailku unik!
Efik on Memilih karir
noer hasanah on Berminat ke NGO Asing
ilah susilawati on Status dan jenjang karir
yusi bayu dwihayati on Berpindah Karir di Usia 32
dino eko supriyanto on Menyiapkan Business Plan
Gunawan Ardiyanto on 10 Biang Bangkrut UKM
Nahdu on Table Manner
krisnadi on 10 Biang Bangkrut UKM
rani on Table Manner
yuda_dhe on Table Manner
Putrawangsa on Memilih Jurusan S2?!
aira on Time Management
Emi Sugiarti on Sudahkah Anda Peduli?
fitria on Table Manner
Ardiningtiyas on Menuju 'Incompetency Level'
Sri Ratna Hadi on Dari Penjahit ke Penulis
monang halomoan on Program SDM tahunan
merlyn on Ayo, Kreatif!
Silvester Balubun on Table Manner
Avatara on Istimewanya Rasberi
vaniawinona on Table Manner
defianus on Tips Negoasiasi Gaji
Dewi Sulistiono on Meniti Sebatang Bambu
Rena on Tersadar…
Dendi on Ayo, Kreatif!
Denni on Menemukan Mentor