Sunday, March 3, 2024
HomePerspectiveResensi BukuMelihat Departemen SDM Lebih Dekat

Melihat Departemen SDM Lebih Dekat

Judul buku : Mengapa Departemen SDM Dibenci?
Penulis : Steve Sudjatmiko
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2009
Harga : Rp. 40.000.00
Peresensi : Ardiningtiyas Pitaloka

Pertama kali membaca judul buku ini ?Mengapa Departemen SDM Dibenci?? menarik tanda tanya yang cukup besar, ?Masa sih?…? Seakan cakar-cakar pertahanan diri mulai menampakkan ujungnya. Mungkin karena banyak aktivitas saya terkait dengan dunia SDM selama ini. Judul buku ini memang sangat ?seksi?, mampu membuat pelaku-pelaku di dunia SDM mengkerutkan keningnya. Pelaku di sini termasuk mereka yang berkecimpung sebagai Konsultan SDM yang bekerjasama dengan Departemen SDM internal perusahaan.

Jika penulis buku menanyakan departemen ini, saya dan beberapa rekan SDM mempertanyakan kata?dibenci?? Tanggung jawab orang di departemen ini mengesankan tugas ?hakim? dan ?dewa?. Bahkan sedikit yang mengetahui bahwa tugas departemen ini adalah memberikan rekomendasi setelah melalui pengukuran terstruktur. Sekali lagi ini merupakan pertahanan diri yang terlontar dalam obrolan antar pelaku SDM.

Namun keheranan saya langsung dijawab Penulis dalam bab 1: ?Benarkah Departemen SDM Dibenci?? Sudjatmiko mengingatkan kembali posisi unik departemen ini mulai sebagai jembatan, pintu masuk, penyaring, polisi-jaksa-hakim, sahabat karyawan dan gerbang terakhir. ?Tidak ada departemen lain yang memiliki posisi seperti ini. Bila ada SDM yang tidak melakukan peran jembatan ini, mereka menyia-nyiakan kelebihan dahsyat departemen ini? (h.23)

Uniknya, Sudjatmiko kemudian segera menyertakan cerita-cerita kecil hasil wawancara yang tidak menyenangkan dengan departemen SDM di bab.2. ?Pengalaman Buruk dengan SDM?. Semua nama tentu telah disamarkan, di antaranya Charlo, seorang Kepala Departemen, ?Saya rasa tugas mereka yang terpenting adalah melayani departemen lain tentang kebutuhan SDM, mulai dari merekrut karyawan. Tapi kenapa sulit sekali ya? Semua permintaan saya tentang karyawan kok lama sekali?? (h.26). Komentar ini ditampilkan dengan menarik berupa gambar wajah mirip tokoh ayah Bart Simpson dan kotak dialog di sampingnya.

Lalu apa sebenarnya yang membuat pegawai jengkel dengan departemen ini? Sudjatmiko mengajukan delapan alasan dengan lugas. Delapan alasan ini adalah; (1) SDM kurang mengerti bisnis inti perusahaan; (2) SDM tidak memiliki tujuan dan hasil yang jelas; (3) SDM tidak menguasai pekerjaan inti SDM; (4) Proses SDM berbelit-belit; (5) Ketidakpedulian SDM dengan karyawan; (6) SDM tidak adil; (7) SDM sok kuasa; (8) SDM berpolitik (h.33-69).

Jika di bab.2 departemen ini yang menjadi ?bahan gosip?, di bab.4, Penulis membeberkan pengalaman buruk yang dialami departemen SDM. Tidak seperti ?curhat? pegawai yang kesal pada departemen SDM melalui karikatur dan kotak dialog. Cerita karyawan SDM tampil dengan paragraf biasa, namun tetap menarik, misal komentar Wawan, ?Kita minta karyawan sensus lagi, demi mereka juga, mereka bersungut-sungut. Kita minta data sudah pernah training apa aja, nggak ngasih. Kita tanya pendapat mereka tentang apa aja lewat e-mail, selalu dikit banget yang masukin jawaban. Coba bicara libur, hadiah, wah… nggak usah ditanya juga ngirim pendapat macem-macem,? (h.76).

Saya mulai tersenyum geli, dan saya juga yakin rekan-rekan yang berkutat dengan dunia SDM mulai merasa lega…

Sementara, Penulis tidak begitu saja membiarkan pembacanya berhenti pada senyum lega atau bersungut-sungut. Ia segera membahas pemahaman tentang departemen ini dan kembali mengajukan lima alasan yang tidak tepat untuk membenci SDM. Kekeliruan yang bersumber dari minimnya informasi karyawan tentang tugas dan beban SDM menjadi alasan pertama. Selain itu, anggapan bahwa SDM sebagai pembawa kabar buruk, kambing hitam, satpam bagi karyawan lain dan tingginya keluar-masuk karyawan yang dianggap sebagai kesalahan SDM. Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar itu?

?Adakalanya proses meminta training begitu rumit, bahkan setelah sampai di tingkat direktur sekalipun tidak ada yang berani menandatangani sehingga departemen SDM akhirnya menyerah dan tidak melakukan training apaun.? (h.103). Adalah satu gambaran dilema yang menjadi makanan utama departemen ini.

Menutup buku ini, Sudjatmiko yang juga berpengalaman di departemen SDM memaparkan pemikiran agar SDM dihargai. Bagaimana agar departemen ini dapat diandalkan, menjadi contoh, peduli pada karyawan, mengerti bisnis, mampu menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan, mampu membangkitkan potensi karyawan dan sebagai agen perubahan. Penulis juga menyertakan contoh Job Description Manager HR meliputi key performance indicator, tanggung jawab, hingga kompetensi terpenting (h.147 ? 149).

Dunia SDM kini sedang bergerak menjadi Human Capital, tidak lagi sekedar Human Resources. Buku ini memberi perspektif praktis didukung dengan pengalaman Penulis sebagai praktisi SDM. Penambahan pembahasan tentang perusahaan menurut saya akan memberikan perspektif lebih luas sebagai bangunan utama tempat departemen SDM dan karyawan non SDM berada. Masukan lain untuk Penulis buku (bisa juga bagi yang sedang berniat membuat buku tema serupa) adalah perbandingan antara perusahaan yang telah mengoptimalkan departemen SDM sebagai partner strategis dan yang masih menempatkan di area administrasi SDM saja.

Untuk pembaca, masihkah Anda kesal dengan departemen SDM?

Tyas
Tyas
Career Coach & HR Consultant - "Mind is Magic"
RELATED ARTICLES

1 COMMENT

  1. pak.,,, sya sdh mncari buku ini di gramedia terdekat tpi bku yang ini stock nya kosong semua, kira-kira masih terbit lagi atau tidak ya pak? sya sekaligus juga mau minta referensi judul buku yang membahas tentang loyalitas kerja untuk bahan skripsi saya
    mohon bantuannya ya pak terima kasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

konsultankarir on Pilihan, Memilih or Stuck
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Gagal tes psikotest
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Sulit mendapatkan pekerjaan
konsultankarir on Wawancara dan Psikotest
konsultankarir on Kuis:Career Engager
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Selalu Gagal dalam Interview
konsultankarir on Interview Magic
konsultankarir on Pindah Tempat Kerja
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Psikotes Menggambar
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
Angelina Tria Puspita Rini on Memilih Jurusan S2?!
Lisa on Bingung S2
Fiviiya on Psikotes Menggambar
Wendi Dinapis on Memilih Jurusan S2?!
hasenzah on Memilih Jurusan S2?!
yulida hikmah harahap on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Galuh Rekyan Andini on Memilih Jurusan S2?!
burhanuddin on Memilih Jurusan S2?!
Dian Camellyna on Kuis:Career Engager
ABDUL RAHMAN on Wawancara dan Psikotest
Melva Ronauli Pasaribu on S1 Teknik Informatika S2 Bagusnya Apa?
Faradillah Rachmadani M.Nur on Memilih Jurusan S2?!
Taufik Halim on Memulai Bisnis Fotografi
Edo on Bingung S2
konsultankarir on Profesi yang sesuai
konsultankarir on Bingung S2
yaya on Bingung S2
konsultankarir on Memilih karir
dewi on Pindah kerja
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
dewi on Pindah kerja
Tyas on ILKOM atau MTI
hary on ILKOM atau MTI
Kiki Widia Martha on Buku ‘My Passion, My Career’
jalil abdul aziz on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Nono Suharnowo on Bagaimana agar produktif?
syukri on Jujur atau tidak?
Nida shofiya on Bingung pilih fakultas
abdul madjid on Gagal tes psikotest
abdul madjid on Gagal tes psikotest
Aris on Tujuan karir
NURANI on Tujuan karir
dede on Tujuan karir
Rika on Tujuan karir
Djoko triyono on Sulit mendapat pekerjaan
marco on E-mailku unik!
Efik on Memilih karir
noer hasanah on Berminat ke NGO Asing
ilah susilawati on Status dan jenjang karir
yusi bayu dwihayati on Berpindah Karir di Usia 32
dino eko supriyanto on Menyiapkan Business Plan
Gunawan Ardiyanto on 10 Biang Bangkrut UKM
Nahdu on Table Manner
krisnadi on 10 Biang Bangkrut UKM
rani on Table Manner
yuda_dhe on Table Manner
Putrawangsa on Memilih Jurusan S2?!
aira on Time Management
Emi Sugiarti on Sudahkah Anda Peduli?
fitria on Table Manner
Ardiningtiyas on Menuju 'Incompetency Level'
Sri Ratna Hadi on Dari Penjahit ke Penulis
monang halomoan on Program SDM tahunan
merlyn on Ayo, Kreatif!
Silvester Balubun on Table Manner
Avatara on Istimewanya Rasberi
vaniawinona on Table Manner
defianus on Tips Negoasiasi Gaji
Dewi Sulistiono on Meniti Sebatang Bambu
Rena on Tersadar…
Dendi on Ayo, Kreatif!
Denni on Menemukan Mentor