Psikotes

oleh | 4 December 2012 | 0 Komentar

Saya adalah fresh graduate berusia 23 tahun. saya lulusan sebuah universitas ternama di kota Malang dengan IPK 3,60. sedari sampai dengan kuliah saya memiliki prestasi akademik yang baik bahkan tergolong amat baik. Saat sedang mencari kerja, saya dihadapkan dengan psikotes dan psikotes. IQ saya 106. suatu ketika saya mendapat bocoran untuk posisi yang saya lamar, dibutuhkan IQ di atas 100, asal pas 100 pasti lolos. namun kenyataannya 4 kali saya mengikuti di kota yg berbeda dengan variasi soal yang sama (kota M sama dgn kota Y dan 2x tes di kota S soal dan tester pun sama) saya telah berlatih soal yang serupa, Pauli juga stabil grafiknya, namun tetap saya tidak lolos.

Pertanyaan saya:

1. Apakah IQ saya menurun? kalau IQ saya di bawah rata-rata, apakah bisa saya lulus cumlaude di jajaran universitas terkemuka di Indonesia (saya masuk universitas tersebut lewat jalur SPMB/umptn)

2. Teman saya dengan IPK jauh di bawah saya dan menghadapi tes yang serupa dengan saya bisa lolos, kenapa saya tidak pernah?

3.Saya selalu lolos wawancara psikolog, namun gagal pda psikotes, kira-kira kenapa ya? Padahal secara intelegensi saya baik. Saya bingung mau bertanya kepada siapa, karena kalau mau konsultasi harga mahal dan saya anak orang tidak mampu. Saya sangat berterima kasih apabila ada yang berkenan menjawab.

Cindy

Dear Sdr.Cindy,

Kami memahami kebingungan Anda, namun kami minta Anda terbuka dalam mencermati pembahasan dalam forum ini. Ada kekeliruan mendasar yang perlu Anda ketahui terkait IQ dan Psikotes. Pertama, IQ bukan penentu keberhasilan dalam melamar pekerjaan, juga pendidikan. Anda mungkin pernah mendengar/membaca tentang EQ (Emotional Quotient) yang semakin menunjukkan perannya dalam keberhasilan seseorang. Hal ini karena kecerdasan seseorang dalam mengelola dirinya sangat diperlukan untuk mencapai tujuan, baik dalam menghadapi tantangan dari dalam diri sendiri maupun dengan lingkungan, tidak semata mengelola konten/tugas. Bukankah kita hidup dalam satu masyarakat?

Ke dua, psikotest bukan bertujuan untuk mengukur apa yang telah dipelajari seperti contohnya TOEFL atau SPMB/UMPTN, namun untuk menggali potensi diri yang menjadi bagian seseorang sebagai hasil ‘pembelajaran’ selama perkembangan dirinya. Contohnya pola penyelesaian masalah, pola pikir divergen (menyebar)/konvergen (linier), dsb. Anda ‘tidak dapat’ memilih untuk lebih unggul dalam pola pikir divergen misalnya, namun kecenderungan selama inilah yang ternyata menjadikan seseorang memiliki kemampuan berpikir divergen. Meki demikian, pola pikir ini pun bisa dilatih, namun secara (potensi) natural biasanya ditemukan pada mereka yang memiliki minat tinggi pada seni, sementara konvergen lebih pada mereka yang menyenangi bidang konvensional.

Selain itu, terdapat item-item tertentu dalam psikotest yang bersifat ‘jebakan’, artinya terdapat ambang batas untuk mendeteksi apakah testee (orang yang mengerjakan tes) berbohong, berpura-pura atau memilih poin yang bersifat umum/normatif. Hasil ini sangat mudah ditemui pada testee yang memanipulasi atau tidak mengerjakan sesuai instruksi, artinya sesuai dengan diri sendiri.

Anda menyatakan bahwa grafik Pauli telah dibuat stabil, perlu Anda ketahui bahwa bentuk grafik atau hasil tes lainnya dalam psikotest tidaklah dibaca (diinterpretasi) secara tunggal, melainkan pararel dengan tes lainnya, termasuk observasi tester (pelaksana administrasi tes) pada saat psikotest berlangsung. Hasil ini akan dipararelkan pula dengan proses seleksi lain seperti leaderless group discussion, analisis kasus, interview dan lainnya sesuai kebutuhan. Mungkin Anda juga akan menemui tes yang mirip dengan Pauli yakni Kraepelin, kami sarankan untuk tidak memikirkan bentuk grafik akhirnya karena hal ini mengganggu konsentrasi dan menghalangi diri untuk menunjukkan (menggali) yang potensi sebenarnya.

Contoh konkretnya, apabila hasil dua test menunjukkan Anda seorang yang lebih optimal mengelola tugas yang langsung berinteraksi dengan orang lain daripada hal teknis, namun empat hasil test lainnya menunjukkan hasil berbeda, begitu juga dalam proses seleksi lainnya, maka profil keseluruhanlah yang akan menjadi acuannya.

Saran kami, percayalah dengan potensi diri sendiri dan berkonsentrasilah sehingga Anda pun akan lebih mudah menjalaninya. Anda boleh mempelajari soal-soal psikotes yang ada dalam beragam buku dengan tujuan untuk mempersiapkan mental, karena telah mengenali pola dan ragam soalnya. Cermati beberapa instruksi yang berisi: tidak ada jawaban yang benar atau salah, percayalah bahwa instruksi tersebut memang benar adanya, tidak sekedar menenangkan peserta tes. Semoga bermanfaat dan tetap semangat. Terima kasih 🙂

Salam,

Tim Konsultankarir.com

Share this post :

Share Your Thoughts!

Copyright © 2020 Konsultan Karir. All rights reserved.