Friday, April 19, 2024
HomeSaya dan KarirBoss Wanita di Tengah Pekerja Pria

Boss Wanita di Tengah Pekerja Pria

Dunia kerja saat ini sudah makin penuh persaingan. Siapa yang tangguh, bekerja keras, serta smart dipastikan akan bertahan di posisinya. Bahkan memungkinkan untuk meningkatkan karirnya. Menjadi boss bukan tidak mungkin dirasakan semuan orang, termasuk para wanita. Nah sebagai wanita, bagaimana tips dan trik Anda menjadi seorang pimpinan di tengah-tengah karyawan yang mayoritas adalah pria?

Ada beberapa sikap yang bisa diambil ketika Anda menjadi boss, yang pertama perhatikan siapa saja pria yang menjadi bawahan Anda. Pelajari secara umum tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan apa saja yang dimiliki oleh anak buah Anda. Bagi boss wanita yang bekerja dengan para pria dari kelas pekerja terbawah, misalnya pekerja bangunan proyek, pekerja tambang, buruh pabrik, petugas cleaning service, sopir dan lainnya, maka harus dipastikan bahwa Anda memiliki pengetahuan dasar yang cukup terhadap apa-apa yang mereka kerjakan. Anda pun harus menunjukkan sikap respek dan serius mendengarkan berbagai masukan maupun keluhan mereka, dengan cara sopan, ramah namun tetap menjaga jarak. Tunjukkan juga bahwa Anda bukan tipe yang takut turun ke lapangan apabila dibutuhkan. Sikap Anda yang sesekali turun lapangan dengan cara serius namun santai, akan bisa menjadikan para bawahan tersebut menghormati dan segan dengan Anda. Respectfull, bukan takut.

Sementara bila posisi Anda berhubungan dengan karyawan pria pada level menengah, misalnya petugas administrasi, sekretaris, entry data, petugas kasir dan lainnya, maka tidak saja Anda diharapkan paham dan berpengetahuan atas pekerjaan mereka, namun juga Anda pribadi harus bisa menyakinkan bahwa Anda sendiri juga bisa melakukan pekerjaan tersebut. Di sinilah Anda harus memperlihatkan bahwa kehadiran mereka sangat Anda butuhkan, namun bukan berarti mereka bisa sewenang-wenang terhadap Anda. Dalam kesempatan personal, santai namun sekaligus serius (misalnya saat makan siang bersama, gathering, maupun meeting informal), kemukakan juga bahwa Anda pun pernah pada level mereka, dan tidak melupakan cara-cara menghandlenya. Untuk itu Anda jangan pernah lupa untuk sesekali mengasah kemampuan dasar Anda ini, sehingga jika sewaktu-waktu secara mendadak para bawahan ini meminta saran, masukan, maupun solusi atas persoalannya, Anda dengan segera bisa mengatasinya. Paling tidak memberikan contohnya. Not just talking only, but prove it!

Lalu bagaimana jika bawahan Anda mayoritas pria dalam posisi atas? Misalnya manajer keuangan, manajer marketing, manajer produksi, dan deretan manajer lainnya, maka pendekatan, sikap dan tindakan Anda tentu berbeda dengan para pekerja pria di kedua level lainnya. Di sini tidak saja kemampuan otak Anda yang dibutuhkan untuk mengatur strategi, namun kemampuan diplomasi Anda pun dituntut tinggi. Pastikan dalam setiap meeting baik formal maupun informal, Anda mencatat masing-masing perencanaan maupun kegiatan yang sudah mereka lakukan. Mencatat point-pointnya dalam otak dan juga tertulis secara langsung, jangan mengandalkan sekretaris Anda semata. Evaluasi pun Anda harus sampaikan secara terbuka berkaitan dengan segala laporan mereka. Ingat juga untuk sesekali melakukan ?pemeriksaan? mendadak pada bagian mereka sebelum meeting dimulai, hal ini untuk cross check apakah laporan tersebut sifatnya ?Asal Ibu Senang?, ataukah benar-benar laporan riil dari kondisi lapangan yang ada. Pada level ini, sebagai boss wanita Anda harus menunjukkan sikap bahwa kehadiran Anda adalah sebagai team leader dan sekaligus salah satu penanggung jawab atas kemajuan perusahaan, dan bukan sebagai threat, ancaman bagi karir mereka. Sehingga sesekali memanggil para bawahan itu secara terpisah, untuk mendiskusikan pekerjaan mereka, baik dari kendala, hambatan, maupun prospek ke depannya, merupakan salah satu kegiatan yang efektif agar bawahan Anda merasa tenang sekaligus bertanggungjawab atas apa yang sudah mereka laksanakan. Sense of belonging terhadap perkembangan perusahaan juga makin tumbuh di antara mereka.

Jika semua trik dan tips tersebut Anda jalankan, tidak akan ada masalah lagi bagi Anda untuk menjadi boss wanita di antara para pekerja pria.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

konsultankarir on Pilihan, Memilih or Stuck
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Gagal tes psikotest
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Sulit mendapatkan pekerjaan
konsultankarir on Wawancara dan Psikotest
konsultankarir on Kuis:Career Engager
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Selalu Gagal dalam Interview
konsultankarir on Interview Magic
konsultankarir on Pindah Tempat Kerja
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Psikotes Menggambar
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
Angelina Tria Puspita Rini on Memilih Jurusan S2?!
Lisa on Bingung S2
Fiviiya on Psikotes Menggambar
Wendi Dinapis on Memilih Jurusan S2?!
hasenzah on Memilih Jurusan S2?!
yulida hikmah harahap on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Galuh Rekyan Andini on Memilih Jurusan S2?!
burhanuddin on Memilih Jurusan S2?!
Dian Camellyna on Kuis:Career Engager
ABDUL RAHMAN on Wawancara dan Psikotest
Melva Ronauli Pasaribu on S1 Teknik Informatika S2 Bagusnya Apa?
Faradillah Rachmadani M.Nur on Memilih Jurusan S2?!
Taufik Halim on Memulai Bisnis Fotografi
Edo on Bingung S2
konsultankarir on Profesi yang sesuai
konsultankarir on Bingung S2
yaya on Bingung S2
konsultankarir on Memilih karir
dewi on Pindah kerja
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
dewi on Pindah kerja
Tyas on ILKOM atau MTI
hary on ILKOM atau MTI
Kiki Widia Martha on Buku ‘My Passion, My Career’
jalil abdul aziz on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Nono Suharnowo on Bagaimana agar produktif?
syukri on Jujur atau tidak?
Nida shofiya on Bingung pilih fakultas
abdul madjid on Gagal tes psikotest
abdul madjid on Gagal tes psikotest
Aris on Tujuan karir
NURANI on Tujuan karir
dede on Tujuan karir
Rika on Tujuan karir
Djoko triyono on Sulit mendapat pekerjaan
marco on E-mailku unik!
Efik on Memilih karir
noer hasanah on Berminat ke NGO Asing
ilah susilawati on Status dan jenjang karir
yusi bayu dwihayati on Berpindah Karir di Usia 32
dino eko supriyanto on Menyiapkan Business Plan
Gunawan Ardiyanto on 10 Biang Bangkrut UKM
Nahdu on Table Manner
krisnadi on 10 Biang Bangkrut UKM
rani on Table Manner
yuda_dhe on Table Manner
Putrawangsa on Memilih Jurusan S2?!
aira on Time Management
Emi Sugiarti on Sudahkah Anda Peduli?
fitria on Table Manner
Ardiningtiyas on Menuju 'Incompetency Level'
Sri Ratna Hadi on Dari Penjahit ke Penulis
monang halomoan on Program SDM tahunan
merlyn on Ayo, Kreatif!
Silvester Balubun on Table Manner
Avatara on Istimewanya Rasberi
vaniawinona on Table Manner
defianus on Tips Negoasiasi Gaji
Dewi Sulistiono on Meniti Sebatang Bambu
Rena on Tersadar…
Dendi on Ayo, Kreatif!
Denni on Menemukan Mentor