Thursday, June 13, 2024
HomePerspectiveResensi BukuPerkuat Otot Memori Kita!

Perkuat Otot Memori Kita!

Judul : Myelin: Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan
Penulis : Rhenald Kasali
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Hal : 346 halaman + xiii
Harga : Rp. 100.000,00
Peresensi : Ardiningtiyas P

?Setiap orang punya bakat. Yang jarang dimiliki adalah keberanian untuk mengantarkan bakat itu melewati lorong-lorong gelap dengan penuh disiplin? ? Erica Jong (h.142)

?Membuat usaha menjadi besar, berkelanjutan, tangguh dan inovatif? Adalah kalimat yang akan kita temui pada sampul di bagian paling atas. Apakah buku ini khusus untuk para pengusaha? Untuk orang-orang yang sedang merintis, menjalankan atau mengembangkan usahanya? Kalimat di atas memang bisa ?mengecoh? calon pembaca yang telah mengalami ketertarikan visual pada sampul buku ini. Warna merah tua tegas berpadu dengan lingkaran ?nukleus? berpendar kuning dan oranye yang eye cathing. Rhenald Kasali segera menepis anggapan di benak kita pada prakatanya, ?Pada tahun 2010 ini, saya ingin menghadiahi pembaca sebuah buku yang sudah lama saya pikirkan. (h.xiii)?

Mungkin sebagian dari kita masih ingat dengan buku DNA Change ?nya, yang kebetulan memiliki warna dasar sampul buku sama, merah. Seakan ia ingin terus menyampaikan bahwa untuk perubahan diperlukan keberanian dan semangat yang tak boleh padam. Buku ini agak berbeda, Rhenald lebih bercerita dan bertutur dari satu kisah ke konsep dan kisah lainnya untuk mengenalkan konsep myelin. Ia mendeskripsikan myelin dengan perbandingan antara kereta api Jabotabek dan Shinkansen.

Kereta api Jabotabek adalah seperti manusia yang hanya mengandalkan satu kekuatan atau satu memory, yaitu satu lokomotif di kepalanya. Sedangkan kereta api Shinkansen adalah kereta supercepat karena mengandalkan dua jenis memory sekaligus, yaitu brain memory (di kepalanya, sebagai lokomotif penarik) dan muscle memory (pada setiap gerbongnya). Muscle memory itulah yang dimaksud dengan myelin (h.7).

Saya menyatakan bahwa dalam buku ini, Rhenald lebih banyak bertutur. Ia menghadirkan banyak kisah yang tidak hanya menyentil keraguan dan seribu excuse kita untuk menunda bertindak, namun juga menyentuh hati.

Seorang office boy yang sejak SMA telah tegas menjawab pertanyaan teman-teman tentang cita-cita ?Aku mau jadi petugas cleaning service!?. Ia menetapkan pilihan sebagai jalan keluar kesulitan ekonomi keluarganya sejak kecil. ?Cita-cita saya ingin membuat ibu tersenyum, karena dari dulu ibu susah banget tersenyum.? Dengan disiplin, kejujuran, kerja keras dan perhatian pada detil, ia telah menjadi coordinator office boy (OB). Ia kini juga telah memiliki sepeda motor dan membiayai adiknya kuliah (h.4).

Anda akan menemukan contoh-contoh intangibles pada manusia dengan segala kesulitan dan keindahannya, seperti dalam artis tua Susan Boyle, bintang-bintang sepakbola Brasil (dari Pele sampai Ronaldinho), dan Se Ri Pak (pemain golf Korea pertama yan memenangi US Women?s Open 1998). Intangibles dibangun dari dalam diri manusia yang membentuk myelin, dan begitu internal intangibles ini terbentuk, dibutuhkan jembatan intangibles keluar (eksternal intangibles) (h.25).

Lapisan myelin sendiri ditemukan oleh Rudolf Virchow (1854). Lapisan ini bisa terdiri dari lima helai, 50 helai atau lebih banyak lagi dalam suatu mata rantai informasi pada jaringan system syaraf manusia. Myelin berfungsi meningkatkan kecepatan arus informasi dalam bentuk impulses, dan menyebarkan ke seluruh jaringan otot (h.105 -106).

Tidak hanya otot tubuh yang memerlukan latihan, begitu pula dengan otot memory kita. Latihan dan latihan lah yang membuatnya kuat dan menjadi penggerak bersama brain memory . Pembahasan tentang myelin secara khusus juga ditampilkan di hal 98-128 sebagai penutup bab awal sekaligus penghantar bab selanjutnya. Semakin tebal lapisan itu, semakin efisien informasi beredar dan semakin cepat serta semakin otomatis manusia melakukan gerakan (h.108).

Susan Boyle, perempuan paruh baya yang awal kemunculannya di panggung dipandang sebelah mata oleh para audience di ajang Britain?s Got Talent. Parasnya yang lebih mirip seorang nenek dengan rambut pirang yang mulai menipis tampak gugup, apalagi salah satu jurinya adalah Simon Cowell. ?Kalau saya berhasil, saya ingin mengubah dunia. Mengubah pandangan orang-orang,? ujarnya sedikit terbata-bata. Tawa ribuan penonton segera berubah menjadi kebisuan begitu mendengar suara emasnya mengalun. Suaranya mengingatkan audience pada Josh Groban, dengan penampilan fisik dan usia yang berbeda (h.27-29).Kisah lain berlanjut pada pelatihan atlit-atlit senam China juga pesepakbola Brasil.

Penulis juga menampilkan proses pemupukan intangibles di perusahaan Indonesia yakni taxi Blue Bird dan Wijaya Karya (WIKA) dengan analisa cukup dalam. Tanpa disadari, terdapat kalimat sakti yang menjadi inspirasi kuat di awal perkembangan dua perusahaan ini. ?Kalau dulu Blue Bird mencari pelanggan, nanti pelanggan akan mencari Blue Bird,? kata pendirinya, Mutiara Djokosoetono (h.125) dan ?Kalau hanya peralatan seperti ini kita juga bisa membuatnya sendiri,? ungkap Frans S. Sunito, insinyur muda WIKA yang kesal ketika membongkar peti-peti kemas dari Jerman di tahun 1980 (h.242).

Pada bagian akhir, penulis kembali mengingatkan bahwa aspek terpenting di belakang intangibles adalah memory. Memory itulah yang menggerakkan manusia untuk berkarya dan bertindak. Muscle memory dapat dibangun di dunia kesenian, olahraga, akademis, dan tentu saja dunia usaha (h.337).

Kalimat anggun Mother Teresa menutup rangkaian buku inspiratif ini.

?Tuhan tidak menuntut kita untuk berhasil. Ia hanya minta kita berani untuk mencobanya? ? Mother Teresa.

Previous article
Next article
Tyas
Tyas
Career Coach & HR Consultant - "Mind is Magic"
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

konsultankarir on Pilihan, Memilih or Stuck
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Gagal tes psikotest
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Sulit mendapatkan pekerjaan
konsultankarir on Wawancara dan Psikotest
konsultankarir on Kuis:Career Engager
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Selalu Gagal dalam Interview
konsultankarir on Interview Magic
konsultankarir on Pindah Tempat Kerja
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Psikotes Menggambar
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
Angelina Tria Puspita Rini on Memilih Jurusan S2?!
Lisa on Bingung S2
Fiviiya on Psikotes Menggambar
Wendi Dinapis on Memilih Jurusan S2?!
hasenzah on Memilih Jurusan S2?!
yulida hikmah harahap on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Galuh Rekyan Andini on Memilih Jurusan S2?!
burhanuddin on Memilih Jurusan S2?!
Dian Camellyna on Kuis:Career Engager
ABDUL RAHMAN on Wawancara dan Psikotest
Melva Ronauli Pasaribu on S1 Teknik Informatika S2 Bagusnya Apa?
Faradillah Rachmadani M.Nur on Memilih Jurusan S2?!
Taufik Halim on Memulai Bisnis Fotografi
Edo on Bingung S2
konsultankarir on Profesi yang sesuai
konsultankarir on Bingung S2
yaya on Bingung S2
konsultankarir on Memilih karir
dewi on Pindah kerja
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
dewi on Pindah kerja
Tyas on ILKOM atau MTI
hary on ILKOM atau MTI
Kiki Widia Martha on Buku ‘My Passion, My Career’
jalil abdul aziz on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Nono Suharnowo on Bagaimana agar produktif?
syukri on Jujur atau tidak?
Nida shofiya on Bingung pilih fakultas
abdul madjid on Gagal tes psikotest
abdul madjid on Gagal tes psikotest
Aris on Tujuan karir
NURANI on Tujuan karir
dede on Tujuan karir
Rika on Tujuan karir
Djoko triyono on Sulit mendapat pekerjaan
marco on E-mailku unik!
Efik on Memilih karir
noer hasanah on Berminat ke NGO Asing
ilah susilawati on Status dan jenjang karir
yusi bayu dwihayati on Berpindah Karir di Usia 32
dino eko supriyanto on Menyiapkan Business Plan
Gunawan Ardiyanto on 10 Biang Bangkrut UKM
Nahdu on Table Manner
krisnadi on 10 Biang Bangkrut UKM
rani on Table Manner
yuda_dhe on Table Manner
Putrawangsa on Memilih Jurusan S2?!
aira on Time Management
Emi Sugiarti on Sudahkah Anda Peduli?
fitria on Table Manner
Ardiningtiyas on Menuju 'Incompetency Level'
Sri Ratna Hadi on Dari Penjahit ke Penulis
monang halomoan on Program SDM tahunan
merlyn on Ayo, Kreatif!
Silvester Balubun on Table Manner
Avatara on Istimewanya Rasberi
vaniawinona on Table Manner
defianus on Tips Negoasiasi Gaji
Dewi Sulistiono on Meniti Sebatang Bambu
Rena on Tersadar…
Dendi on Ayo, Kreatif!
Denni on Menemukan Mentor