Thursday, June 13, 2024
HomePerspectiveArtikelMengizinkan Perubahan

Mengizinkan Perubahan

“Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself.” ~Leo Tolstoy 

Seringkali perubahan menjadi menakutkan karena kita berpikir secara ekstrem, dari hitam ke putih atau sebaliknya. Kita lupa bahwa ada jembatan yang perlu dilalui, kalaupun lompatan, kita bisa mengatur lompatan itu sesuai kebutuhan. Ini yang akhirnya membuat orang berputar sendiri, tanpa adanya hasil yang signifikan. Kondisi ini tidak akan lebih baik meskipun ada orang lain yang berusaha membantu, sampai Anda sendiri mau melakukan sesuatu yang riil.

Tidak sedikit yang menginginkan perubahan cepat dan sebisa mungkin tidak mengganggu kenyamanan saat ini. Pada titik ini, sebenarnya  Anda masih belum memiliki komitmen untuk berubah, tetapi menginginkan orang lain untuk mengubah kondisi sesuai yang Anda inginkan.

Ini salah satu tantangan bagi konsultan karir atau career coach ketika menemui klien/coachee dengan pandangan demikian. Sebelum membahas lebih jauh, ada perbedaan utama peran konsultan dan coach. Konsultan karier akan bertindak sebagai ahli yang akan memberikan saran, sementara career coach akan bertindak sebagai partner untuk mendampingi proses pengembangan karier. Meskipun berbeda, tetapi keduanya tetap menenkankan satu hal: klien/coachee lah yang melakukan usaha perubahan.

Tantangan ini yang membuat proses pengembangan tidak bisa langsung dilakukan, karena perlunya pemahaman dan keyakinan diri klien tentang ini. Pertanyaan, “Bagaimana solusinya’ dari klien akan ‘dikembalikan’ ke klien itu sendiri. Lalu, apa peran career coach di sini? Peran career coach adalah membantu klien dalam proses, bukan memberikan solusi.

Sementara dalam proses konsultasi, konsultan akan memberikan beberapa saran yang sekali lagi, hanya klien lah yang mengetahui kesesuaiannya dengan kondisi di lapangan. Tidak jarang, saran yang diberikan pun dalam bentuk daftar pertanyaan. Tujuannya untuk membantu klien mengidentifikasi alternatif solusi maupun proses yang perlu dilalui.

Tembok penghalang

Ada banyak orang yang memiliki potensi berkembang, tetapi mereka sendirilah yang menghalanginya. Ada dua tembok internal yang saya lihat yakni keyakinan akan kemampuan diri sendiri yang terlalu tinggi dan sebaliknya-terlalu rendah. Untuk yang terlalu tinggi, mereka sulit untuk belajar dari orang lain karena takut terlihat salah. Sedangkan yang keyakinan yang terlalu rendah, juga menghalangi mereka untuk mengapresiasi diri sendiri dan mencoba cara baru.

Bukan tinggi atau rendah diri yang diperlakukan, tetapi kerendahatian untuk bisa terus melangkah. Diri yang tinggi hanya akan membatukan kepala, sementara diri yang rendah akan melemahkan.

Proses perubahan itu sendiri bersifat dinamis. Keinginan untuk berubah mungkin diawali dengan perasaan cemas, yang kemudian diikuti dengan semangat ketika telah memutuskan untuk berubah. Sampai di sini, tantangan belum selesai, karena masih ada kemungkinan muncul perasaan takut berhasil-tidaknya perubahan tersebut. Kita pun akan mempertanyakan kembali keinginan perubahan itu. Pada tahap ini, kita perlu kembali melihat kekuatan diri agar mampu memvisualisasikan tujuan/target/goal dari perubahan itu sendiri. Semakin jelas tujuan tervisualisasikan di kepala, semakin besar kemungkinan untuk kita bangkit dan terus melangkah. Kurang lebih, alur proses transisi  tergambarkan dalam ilustrasi berikut:

the process of transition
Klik untuk memperbesar gambar (http://bit.ly/1jo1KwW)

Siapkan diri untuk melakukan perubahan, dan yang terpenting, izinkan diri Anda untuk berubah.

 

Previous article
Next article
Tyas
Tyas
Career Coach & HR Consultant - "Mind is Magic"
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

konsultankarir on Pilihan, Memilih or Stuck
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Gagal tes psikotest
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Sulit mendapatkan pekerjaan
konsultankarir on Wawancara dan Psikotest
konsultankarir on Kuis:Career Engager
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Selalu Gagal dalam Interview
konsultankarir on Interview Magic
konsultankarir on Pindah Tempat Kerja
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Psikotes Menggambar
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
Angelina Tria Puspita Rini on Memilih Jurusan S2?!
Lisa on Bingung S2
Fiviiya on Psikotes Menggambar
Wendi Dinapis on Memilih Jurusan S2?!
hasenzah on Memilih Jurusan S2?!
yulida hikmah harahap on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Galuh Rekyan Andini on Memilih Jurusan S2?!
burhanuddin on Memilih Jurusan S2?!
Dian Camellyna on Kuis:Career Engager
ABDUL RAHMAN on Wawancara dan Psikotest
Melva Ronauli Pasaribu on S1 Teknik Informatika S2 Bagusnya Apa?
Faradillah Rachmadani M.Nur on Memilih Jurusan S2?!
Taufik Halim on Memulai Bisnis Fotografi
Edo on Bingung S2
konsultankarir on Profesi yang sesuai
konsultankarir on Bingung S2
yaya on Bingung S2
konsultankarir on Memilih karir
dewi on Pindah kerja
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
dewi on Pindah kerja
Tyas on ILKOM atau MTI
hary on ILKOM atau MTI
Kiki Widia Martha on Buku ‘My Passion, My Career’
jalil abdul aziz on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Nono Suharnowo on Bagaimana agar produktif?
syukri on Jujur atau tidak?
Nida shofiya on Bingung pilih fakultas
abdul madjid on Gagal tes psikotest
abdul madjid on Gagal tes psikotest
Aris on Tujuan karir
NURANI on Tujuan karir
dede on Tujuan karir
Rika on Tujuan karir
Djoko triyono on Sulit mendapat pekerjaan
marco on E-mailku unik!
Efik on Memilih karir
noer hasanah on Berminat ke NGO Asing
ilah susilawati on Status dan jenjang karir
yusi bayu dwihayati on Berpindah Karir di Usia 32
dino eko supriyanto on Menyiapkan Business Plan
Gunawan Ardiyanto on 10 Biang Bangkrut UKM
Nahdu on Table Manner
krisnadi on 10 Biang Bangkrut UKM
rani on Table Manner
yuda_dhe on Table Manner
Putrawangsa on Memilih Jurusan S2?!
aira on Time Management
Emi Sugiarti on Sudahkah Anda Peduli?
fitria on Table Manner
Ardiningtiyas on Menuju 'Incompetency Level'
Sri Ratna Hadi on Dari Penjahit ke Penulis
monang halomoan on Program SDM tahunan
merlyn on Ayo, Kreatif!
Silvester Balubun on Table Manner
Avatara on Istimewanya Rasberi
vaniawinona on Table Manner
defianus on Tips Negoasiasi Gaji
Dewi Sulistiono on Meniti Sebatang Bambu
Rena on Tersadar…
Dendi on Ayo, Kreatif!
Denni on Menemukan Mentor