Friday, July 19, 2024
HomeSaya dan KarirPositip Saikoloji

Positip Saikoloji

Ini salah satu yang kusuka dari tempatku bekerja sekarang: Rajin mengirimku Training!

Dan inilah cerita dari training yang terakhir ku ikuti, pekan lalu selama 2 hari.

*

Sebulan lalu, seorang yang penting, dengan emosi yang tinggi berkata padaku: “Ngga ada satupun lagi yang bagus yang kulakukan, bisa kau lihat.”

Tiga minggu berselang, kali ini dengan penuh keputusasaan, gantian aku yang berkata: “Semua yang kulakukan salah.

Kurasa itulah kelebihan ?kekurangan’; dia nyaris selalu berhasil membutakan manusia. Satu kekurangan (hampir) selalu berhasil menutupi sebanyak banyaknya kebaikan.

Yang seperti ini bukan cuma ada dalam konteks relasi pribadi, tapi juga keluarga dan kantor.

Dalam sesi curhat dengan mahasiswa/i, aku ingat jelas ada satu anak dengan gemas berkata: “yah, …ibu saya mah, kayanya ngga bisa nemuin yang bagus dari saya. Lha wong saya ngga lagi ngapa-ngapain aja disalah salahinnn.

Kalau dikantor, kebiasaan ?menutupi prestasi, menggarisbawahi kekurangan‘ ini pasti jamak ditemukan pada perusahaan dengan culture pelit. Yang hobi-nya me-retain profit semaksimal mungkin untuk menjadi bonus tahunan para bos. Di perusahaan seperti ini biasanya sesi evaluasi sering diakhiri dengan keinginan kuat karyawan untuk pindah kerja.

Frustasi!

Yep! Ketika pihak lain melulu menggada-gadakan sesuatu yang ?kurang’ pada dirimu, kau akan frustasi. Dan berada dalam lingkungan yang menganggapmu ?biasa biasa saja’ justru pada akhirnya membuatmu jadi ?tak ada apa-apanya’.

*

Martin Seligman, kurasa berpikiran yang sama, sehingga akhirnya menelurkan “Positive Psychology” sekitar dua belas tahun silam. Psikologi Positif mempelajari tentang kekuatan dan kebajikan yang bisa membuat seseorang atau sekelompok orang menjadi berhasil dan bahagia. Ilmu Psikologi yang satu ini fokus pada upaya mengetahui kekuatan utama seseorang, dan lantas memperkuatnya: Strengthen the strength. Ini berbeda dengan mashab yang selama ini kita kenal: menemukan kelemahan, untuk kemudian diperbaiki; karena kelemahan itu, katanya, adalah opportunity yang belum tergali. Dari sini kemudian berkembang istilah SWOT itu.

Seligman pun mengembangkan sebuah “tools”, questionnaire tepatnya, yang akan membantu menemukan “24 urutan karakter terkuat kita.” (www.authentichappines.sas.upenn.edu)

LIMA karakter teratas adalah karakter terkuatmu! Focus on strengthening that strength, rather than crying on your weakness.

Kurasa aku mendukung Seligman!

*

Salah dua yang kusuka dari tempatku bekerja sekarang: Bos ku.

Di hari evaluasi, awal tahun ini,Pak Bos memanggilku.

Saya dengar kamu suka ilang dari kantor. Kalau dicari suka ilang lagi..ilang lagi. Kamu kemana,”katanya.

Saya bukan ilang Pak. Saya ijin, buat ngajar,”jawabku siap siap disemprot.

Dan, aku salah.

Ngajar? Dimana? Ngajar apa?….”Pak Bos bertanya bertubi-tubi. Antusias.

Dan Panjang Lebar Luas, kujelaskan padanya tentang passionku mengajar, yang harus curi curi waktu ku salurkan itu.

Luar biasa. Bukannya mulai hitung menghitung kerugian kantor karena aku rajin ijin, Pak Bos mulai menggaris bawahi satu persatu kelebihanku, selama 5 tahun aku bekerja padanya. Termasuk bakatku untuk mengajar dan berbicara didepan orang banyak. Dan pada akhirnya ia malah memfasilitasi hasratku mengajar, dikantor.

Martin Seligman bisa jadi cerdas, tapi Pak Bos hari itu membuatku menganga akan kebijakan dan tindakan positifnya. Dia tidak fokus pada kekuranganku sebagai karyawan, padahal bukti absensi sudah ada didepan matanya. Instead, dia membantu aku menemukan kekuatanku.

Dan efeknya luar biasa. Responnya yang positif membangkitkan motivasi positif juga padaku.

*

feby
febyhttp://www.konsultankarir.com
Trainer, Writer, Consultant. Do your best and let God do the rest.
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

konsultankarir on Pilihan, Memilih or Stuck
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Gagal tes psikotest
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Sulit mendapatkan pekerjaan
konsultankarir on Wawancara dan Psikotest
konsultankarir on Kuis:Career Engager
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Selalu Gagal dalam Interview
konsultankarir on Interview Magic
konsultankarir on Pindah Tempat Kerja
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Psikotes Menggambar
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
Angelina Tria Puspita Rini on Memilih Jurusan S2?!
Lisa on Bingung S2
Fiviiya on Psikotes Menggambar
Wendi Dinapis on Memilih Jurusan S2?!
hasenzah on Memilih Jurusan S2?!
yulida hikmah harahap on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Galuh Rekyan Andini on Memilih Jurusan S2?!
burhanuddin on Memilih Jurusan S2?!
Dian Camellyna on Kuis:Career Engager
ABDUL RAHMAN on Wawancara dan Psikotest
Melva Ronauli Pasaribu on S1 Teknik Informatika S2 Bagusnya Apa?
Faradillah Rachmadani M.Nur on Memilih Jurusan S2?!
Taufik Halim on Memulai Bisnis Fotografi
Edo on Bingung S2
konsultankarir on Profesi yang sesuai
konsultankarir on Bingung S2
yaya on Bingung S2
konsultankarir on Memilih karir
dewi on Pindah kerja
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
dewi on Pindah kerja
Tyas on ILKOM atau MTI
hary on ILKOM atau MTI
Kiki Widia Martha on Buku ‘My Passion, My Career’
jalil abdul aziz on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Nono Suharnowo on Bagaimana agar produktif?
syukri on Jujur atau tidak?
Nida shofiya on Bingung pilih fakultas
abdul madjid on Gagal tes psikotest
abdul madjid on Gagal tes psikotest
Aris on Tujuan karir
NURANI on Tujuan karir
dede on Tujuan karir
Rika on Tujuan karir
Djoko triyono on Sulit mendapat pekerjaan
marco on E-mailku unik!
Efik on Memilih karir
noer hasanah on Berminat ke NGO Asing
ilah susilawati on Status dan jenjang karir
yusi bayu dwihayati on Berpindah Karir di Usia 32
dino eko supriyanto on Menyiapkan Business Plan
Gunawan Ardiyanto on 10 Biang Bangkrut UKM
Nahdu on Table Manner
krisnadi on 10 Biang Bangkrut UKM
rani on Table Manner
yuda_dhe on Table Manner
Putrawangsa on Memilih Jurusan S2?!
aira on Time Management
Emi Sugiarti on Sudahkah Anda Peduli?
fitria on Table Manner
Ardiningtiyas on Menuju 'Incompetency Level'
Sri Ratna Hadi on Dari Penjahit ke Penulis
monang halomoan on Program SDM tahunan
merlyn on Ayo, Kreatif!
Silvester Balubun on Table Manner
Avatara on Istimewanya Rasberi
vaniawinona on Table Manner
defianus on Tips Negoasiasi Gaji
Dewi Sulistiono on Meniti Sebatang Bambu
Rena on Tersadar…
Dendi on Ayo, Kreatif!
Denni on Menemukan Mentor