Friday, July 19, 2024
HomePerspectiveArtikelMendapat Promosi sebagai Direktur? Siapa takut!

Mendapat Promosi sebagai Direktur? Siapa takut!

“You gain strength, courage, and confidence by every experience in which you really stop to look fear in the face. You are able to say to yourself, ‘I lived through this horror. I can take the next thing that comes along.” (Eleanor Roosevelt)

Mendapatkan promosi menjadi direktur menunjukkan kualifikasi dan kompetensi Anda telah memenuhi proficiency level untuk posisi tersebut. Selamat!

Tentunya ini menjadi sebuah pencapaian signifikan dan kebanggaan pribadi untuk Anda. Mengingat untuk sampai ke level ini tidak mudah dan tidak semua orang mampu, maka wajar bila Anda merasa takut gagal, takut dengan tantangan baru, ataupun takut tidak mampu memenuhi tuntutan perusahaan. Salah satu manfaat rasa takut membuat kita menjadi lebih sadar diri dan waspada untuk lebih berhati-hati dalam memutuskan sesuatu dan bertindak.

Mengenali dan menerima rasa takut adalah langkah awal untuk bisa mengelola perasaan ini. Dengan menerima rasa takut, Anda juga menjadi lebih positif dan memiliki energi untuk mengubahnya menjadi keuntungan bagi Anda.

Sebagai direktur, tantangan yang dihadapi pastinya berbeda dengan posisi Anda sebelumnya. Selain tugas yang lebih berat, tanggung jawab yang lebih besar, tuntutan perusahaan pasti lebih tinggi lagi.

Nah, tantangan apa yang Anda rasa paling membuat Anda takut? Sudahkah Anda mengenalinya? Sudahkah Anda mendata dan membuatnya menjadi lebih konkrit?  Dengan menuliskan tantangan tersebut, Anda mengajak pikiran Anda untuk lebih terarah dengan membuat tantangan tersebut menjadi komponen-komponen yang lebih kecil, sekaligus juga mengarahkan diri untuk menemukan solusi. Hal ini memudahkan Anda juga untuk mengelola tantangan tersebut ke dalam langkah-langkah yang lebih konkrit.

Dengan berupaya mengenali dan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih konkrit, Anda akan lebih optimis dalam mengatasi ketakutan terhadap tantangan.

Berikut ini beberapa hal yang bisa membantu mengatasi rasa takut terhadap tantangan:

  1. Cari tahu berbagai informasi krusial terkait tuntutan yang harus Anda penuhi. Lakukan obrolan informal dengan atasan, rekan kerja, bawahan, kepala departemen/divisi, staf lintas divisi, bahkan hingga ke level yang paling rendah, misal, office boy atau satpam. Hal ini akan membuka wawasan Anda dan mungkin akan memberikan perspektif yang lebih segar terkait tantangan yang Anda hadapi.  Bukan tidak mungkin, Anda juga akan membutuhkan dukungan dari orang-orang tersebut untuk mencapai tujuan.
  1. Mulai dari sasaran yang lebih kecil. Hindari terlalu fokus dengan hasil akhir. Buat sasaran-sasaran kecil yang bisa dicapai dengan tenggat waktu yang spesifik.Sasaran-sasaran kecil yang berhasil dicapai akan membuat Anda maju selangkah. Setiap kemajuan akan menambah keyakinan Anda dan memberikan energi positif untuk bergerak lebih dinamis lagi. Ini akan menjadi ‘amunisi-amunisi’ untuk menghadapi tantangan yang makin kompleks.
  1. Miliki ‘plan B’. Memiliki rencana cadangan akan membantu Anda untuk merasa lebih percaya diri dan segera bergerak bila rencana utama tidak berjalan lancar.
  1. Sabar dengan diri sendiri. Orang-orang yang takut tantangan, pada dasarnya menyukai tantangan. Dan orang-orang yang suka tantangan seringkali menuntut diri sendiri terlalu tinggi. Ingatkan diri sendiri untuk sabar saat tekanan kerja sedang tinggi akan membantu mengantisipasi situasi yang sulit. Pastikan juga Anda memiliki harapan-harapan yang realistis. Harapan-harapan yang realistis membantu Anda untuk mencapai kemajuan.
  1. Fleksibel dan positif. Terbuka dengan berbagai pemikiran dan situasi yang terjadi. Mencapai tujuan seringkali membutuhkan perubahan dalam proses, fleksibel dan bersikap positif akan membantu Anda lebih tenang dalam mengambil tindakan.

Catatan: konten artikel ini pernah dimuat di majalah BestLife edisi tahun 2016.

andin
andinhttp://
Career coach, Writer, Researcher. "be happy, be simple..."
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

konsultankarir on Pilihan, Memilih or Stuck
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Gagal tes psikotest
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Sulit mendapatkan pekerjaan
konsultankarir on Wawancara dan Psikotest
konsultankarir on Kuis:Career Engager
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Selalu Gagal dalam Interview
konsultankarir on Interview Magic
konsultankarir on Pindah Tempat Kerja
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Psikotes Menggambar
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
Angelina Tria Puspita Rini on Memilih Jurusan S2?!
Lisa on Bingung S2
Fiviiya on Psikotes Menggambar
Wendi Dinapis on Memilih Jurusan S2?!
hasenzah on Memilih Jurusan S2?!
yulida hikmah harahap on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Galuh Rekyan Andini on Memilih Jurusan S2?!
burhanuddin on Memilih Jurusan S2?!
Dian Camellyna on Kuis:Career Engager
ABDUL RAHMAN on Wawancara dan Psikotest
Melva Ronauli Pasaribu on S1 Teknik Informatika S2 Bagusnya Apa?
Faradillah Rachmadani M.Nur on Memilih Jurusan S2?!
Taufik Halim on Memulai Bisnis Fotografi
Edo on Bingung S2
konsultankarir on Profesi yang sesuai
konsultankarir on Bingung S2
yaya on Bingung S2
konsultankarir on Memilih karir
dewi on Pindah kerja
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
dewi on Pindah kerja
Tyas on ILKOM atau MTI
hary on ILKOM atau MTI
Kiki Widia Martha on Buku ‘My Passion, My Career’
jalil abdul aziz on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Nono Suharnowo on Bagaimana agar produktif?
syukri on Jujur atau tidak?
Nida shofiya on Bingung pilih fakultas
abdul madjid on Gagal tes psikotest
abdul madjid on Gagal tes psikotest
Aris on Tujuan karir
NURANI on Tujuan karir
dede on Tujuan karir
Rika on Tujuan karir
Djoko triyono on Sulit mendapat pekerjaan
marco on E-mailku unik!
Efik on Memilih karir
noer hasanah on Berminat ke NGO Asing
ilah susilawati on Status dan jenjang karir
yusi bayu dwihayati on Berpindah Karir di Usia 32
dino eko supriyanto on Menyiapkan Business Plan
Gunawan Ardiyanto on 10 Biang Bangkrut UKM
Nahdu on Table Manner
krisnadi on 10 Biang Bangkrut UKM
rani on Table Manner
yuda_dhe on Table Manner
Putrawangsa on Memilih Jurusan S2?!
aira on Time Management
Emi Sugiarti on Sudahkah Anda Peduli?
fitria on Table Manner
Ardiningtiyas on Menuju 'Incompetency Level'
Sri Ratna Hadi on Dari Penjahit ke Penulis
monang halomoan on Program SDM tahunan
merlyn on Ayo, Kreatif!
Silvester Balubun on Table Manner
Avatara on Istimewanya Rasberi
vaniawinona on Table Manner
defianus on Tips Negoasiasi Gaji
Dewi Sulistiono on Meniti Sebatang Bambu
Rena on Tersadar…
Dendi on Ayo, Kreatif!
Denni on Menemukan Mentor