Friday, April 19, 2024
HomePerspectiveArtikelMembangun Tim yang Bahagia

Membangun Tim yang Bahagia

“Positive teams are lead by positive leaders, so start with yourself.” – James Manktelow & Racher Thompson

Membangun tim memiliki tantangan tersendiri yang tidak dapat dilepaskan dari karakter pemimpin. Hal ini karena seorang pemimpin memiliki tuntutan untuk memberikan warna dasar dalam sebuah tim, walaupun aspek konteks atau situasional pun tidak kalah kuat. Untuk itu, saya setuju dengan kutipan dari website Mindtools.com; start with yourself!

Sudah bukan rahasia lagi bahwa kebahagiaan bukan lagi berada di ujung perjalanan atau tujuan semata, melainkan juga antesenden atau berada di awal proses itu sendiri. Mantra bahwa kesuksesan memberikan kebahagiaan mulai samar tergantikan dengan kebahagiaan membawa kesuksesan. Kini, bagaimana Anda sebagai pemimpin mendorong dan menciptakan kebahagiaan tim untuk meraih kesuksesan?

Visi-misi, tim yang memahami tujuan/fokus dari setiap aktivitas akan lebih engaged atau memiliki ikatan yang lebih kuat. Untuk itu, ungkapkan visi-misi, dan jika perlu perjelas dalam bahasa paling sederhana yang mampu dimengerti oleh tim sehingga dapat memberikan inspirasi dan energy positif bagi mereka. Jangan paksakan satu kalimat rumit untuk semua tim, jika Anda memiliki anggota tim dengan karakter dan kemampuan yang beragam, hindari menuntut tim untuk menginterpretasikan sendiri visi-misi perusahaan. Buatlah visi-misi kecil sesuai aktivitas/tujuan divisi dan tenggat waktu sehingga lebih konkret.

Impact, Julie Clow, penulis buku The Work Revolution: Freedom and Excellence for All, dalam salah satu presentasinya yang diunggah di Youtube menekankan untuk fokus pada impact bukan aktivitas. Hal ini menegaskan peran target sehingga ketika tim memahami impact yang akan dituju, maka aktivitas tidak lagi menjadi masalah.Artinya tim dapat memahami beragam aktivitas, bahkan berusaha mengembangkan untuk mencapai target dan impact yang diharapkan.

Peran, perjelas peran setiap anggota tim dan intersection-nya. Terkadang kita tanpa sadar berpikir bahwa tim mampu memahami keterkaitan antara satu dan lainnya, namun pada kenyataannya, kita semua yang tergabung dalam tim memerlukan peta objektif sebagai acuan, sehingga tidak mengandalkan asumsi. Jika perlu buatlah bagan (peta) yang menarik di setiap project (Anda bisa mendelegasikan ini), sehingga tidak saja mengingatkan tentang alur kerja, melainkan juga anggota tim dapat memahami/mengingat siapa yang perlu dibantu untuk mempercepat proses, ketika tugas/tanggung jawab utamanya (individu) telah selesai. Prioritas ini dapat terlihat dari kedekatan tugas dan alurnya. Tim juga dapat saling mengingatkan dan memberikan feedback langsung pada rekan kerja dalam situasi yang cair.

Komunikasi, ingatlah bahwa Anda memainkan peran yang besar dan beragam sebagai seorang pemimpin tidak hanya dalam meraih target (sukses) di ujung proses, melainkan dalam proses keseharian. Untuk itu, perhatikan bagaimana Anda menjalin komunikasi dan bagaimana membantu perkembangannya pada level yang terkecil, termasuk individual jika diperlukan.

Kepercayaan, semakin Anda transparan, semakin terbuka peluang untuk membangun rasa percaya tim. Proses ini terbangun tidak hanya dari informasi objektif seperti pada poin sebelumnya, melainkan juga informasi yang bersifat informal. Perlu dibedakan dengan gossip atau keluhan, tujuannya agar tim saling menggali dan mencoba memahami isu-isu anggota tim lain maupun perusahaan. Termasuk di antaranya perkembangan ekonomi (sosial) nasional atau internasional, sehingga tim pun diingatkan peran perusahaan dalam masyarakat beserta dampak atau konsekuensinya.

Delegasi, studi telah banyak menunjukkan bahwa adanya otonomi dalam melakukan tugas memberikan/meningkatkan kepuasan dalam bekerja. Untuk itu, bangunlah delegasi yang jelas, jika diperlukan, (beranikan) ‘tarik dirilah’ dan percayakan tim untuk memberikan kesempatan stretching skill. Nilai tambah dari tindakan ini di antaranya adalah memotivasi tim dalam meningkatkan kinerja (inovasi-kreatif) untuk mencapai target.

Dukungan, adakalanya fokus tim (anggota) menurun karena masalah di luar pekerjaan (personal, keluarga, dsb), menemui kesulitan atau kurangnya fasilitas yang mencukupi/sesuai untuk mencapai target. Pastikan hal ini dengan menanyakan langsung, observasi lapangan dan segera mencari solusi bersama. Tahan diri Anda untuk tidak langsung mengambil alih, karena justru dapat menurunkan motivasi tim atau memberikan preseden buruk di kemudian hari seperti tim yang tidak tangguh. Ingatlah Anda adalah bagian dari tim sekaligus referensi utama.

Semoga bermanfaat 🙂

Referensi:
http://www.mindtools.com/pages/article/building-positive-team.htm
http://www.youtube.com/watch?v=6wVsQsR4TmQ

Tyas
Tyas
Career Coach & HR Consultant - "Mind is Magic"
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

konsultankarir on Pilihan, Memilih or Stuck
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Gagal tes psikotest
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Sulit mendapatkan pekerjaan
konsultankarir on Wawancara dan Psikotest
konsultankarir on Kuis:Career Engager
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Selalu Gagal dalam Interview
konsultankarir on Interview Magic
konsultankarir on Pindah Tempat Kerja
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Psikotes Menggambar
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
konsultankarir on Bingung S2
konsultankarir on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
konsultankarir on Memilih Jurusan S2?!
Angelina Tria Puspita Rini on Memilih Jurusan S2?!
Lisa on Bingung S2
Fiviiya on Psikotes Menggambar
Wendi Dinapis on Memilih Jurusan S2?!
hasenzah on Memilih Jurusan S2?!
yulida hikmah harahap on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Galuh Rekyan Andini on Memilih Jurusan S2?!
burhanuddin on Memilih Jurusan S2?!
Dian Camellyna on Kuis:Career Engager
ABDUL RAHMAN on Wawancara dan Psikotest
Melva Ronauli Pasaribu on S1 Teknik Informatika S2 Bagusnya Apa?
Faradillah Rachmadani M.Nur on Memilih Jurusan S2?!
Taufik Halim on Memulai Bisnis Fotografi
Edo on Bingung S2
konsultankarir on Profesi yang sesuai
konsultankarir on Bingung S2
yaya on Bingung S2
konsultankarir on Memilih karir
dewi on Pindah kerja
konsultankarir on Memilih Jurusan S2 yang Tepat
dewi on Pindah kerja
Tyas on ILKOM atau MTI
hary on ILKOM atau MTI
Kiki Widia Martha on Buku ‘My Passion, My Career’
jalil abdul aziz on Karir Untuk Lulusan Sosiologi
Nono Suharnowo on Bagaimana agar produktif?
syukri on Jujur atau tidak?
Nida shofiya on Bingung pilih fakultas
abdul madjid on Gagal tes psikotest
abdul madjid on Gagal tes psikotest
Aris on Tujuan karir
NURANI on Tujuan karir
dede on Tujuan karir
Rika on Tujuan karir
Djoko triyono on Sulit mendapat pekerjaan
marco on E-mailku unik!
Efik on Memilih karir
noer hasanah on Berminat ke NGO Asing
ilah susilawati on Status dan jenjang karir
yusi bayu dwihayati on Berpindah Karir di Usia 32
dino eko supriyanto on Menyiapkan Business Plan
Gunawan Ardiyanto on 10 Biang Bangkrut UKM
Nahdu on Table Manner
krisnadi on 10 Biang Bangkrut UKM
rani on Table Manner
yuda_dhe on Table Manner
Putrawangsa on Memilih Jurusan S2?!
aira on Time Management
Emi Sugiarti on Sudahkah Anda Peduli?
fitria on Table Manner
Ardiningtiyas on Menuju 'Incompetency Level'
Sri Ratna Hadi on Dari Penjahit ke Penulis
monang halomoan on Program SDM tahunan
merlyn on Ayo, Kreatif!
Silvester Balubun on Table Manner
Avatara on Istimewanya Rasberi
vaniawinona on Table Manner
defianus on Tips Negoasiasi Gaji
Dewi Sulistiono on Meniti Sebatang Bambu
Rena on Tersadar…
Dendi on Ayo, Kreatif!
Denni on Menemukan Mentor