Menuju ‘Incompetency Level’

oleh | 5 October 2010 | 2 Komentar

Pernahkah Anda mendengar atau membaca the Peter Principle? Formula ini sebenarnya tidak baru, namun tetap menggelitik untuk dibahas termasuk di beberapa media online di luar sana. The Peter Principle berbunyi; ? In a hierarchy, every employee tends to rise to their level of incompetence?

Prinsip yang sepintas memancing kontroversi ini digagas oleh psikologis Kanada, Laurence J.Peter pada tahun 1960-an. Hingga kini, beberapa studi mencoba membuktikan kebenarannya atau lebih tepat keakuratannya termasuk dengan perkembangan dunia kerja.

Sebenarnya, Laurence tidak terlalu berlebih atau paradox. Setiap individu yang berada dalam susunan hirarki akan bergerak naik menunju ketidakmampuan. Coba kita amati dalam promosi kerja, bukankah promosi adalah ajang untuk menjaring pegawai melakukan tugas dan tanggung jawab yang lebih sulit dari sebelumnya? Memang proses promosi akan menguak kompetensi si calon dengan referensi catatan prestasi sebelumnya, namun, ia sebenarnya dituntut dan ditantang untuk melakukan sesuatu yang ?belum? pernah dilakukan. Artinya, ia harus bersedia mempelajari hal baru di posisi baru.

‘Incompetency’ di sini menjadi sangat relevan, karena di posisi baru, tidak hanya tanggung jawab melainkan lingkungan dan pola interaksi yang baru pula. Baru, bukan bermakna sama sekali asing melainkan perkembangan dari sebelumnya. Ia dituntut untuk lebih mengembangkan diri untuk melakukan ketrampilan teknis baru juga interaksi social dengan lingkungan kerjanya.

Bukankah ini sebenarnya wilayah ?incompetency? si individu?

Bahasa lain yang sering kita dengar di Indonesia adalah: langit adalah batasnya. Maka, ketika kita telah dinilai mampu menunaikan tugas dengan baik, kita diminta untuk memasuki zona tidak nyaman: incompetency. Kita ditantang untuk berkarya hingga menemukan ketidakmampuan untuk kemudian belajar dan mendapatkan kompetensi yang baru dan berkembang.

Bukankah ilmu juga dimulai dengan satu kalimat sederhana: ?Saya tidak tahu..?

Banyak kompetensi terkait dengan intelegensi khas seseorang. Sudah bukan rahasia lagi jika tidak semua orang lancar menuliskan kata demi kata membentuk artikel. Ada banyak orang yang merasa tersiksa ketika harus menuliskan laporan deskriptif. Sebaliknya ada banyak pula orang yang langsung melihat bintang berputar di kepalanya ketika melihat deretan angka terlebih jika diminta mengoperasikannya. Tetapi tidak dengan si cerdas numeric, ia justru melihat keindahan misteri angka, di mana satu dua digit bermakna begitu banyak bagi kehidupan umat manusia. Bagi si cerdas musical, memainkan alat music dan membaca partitur menjadi nafas yang melegakan. Juga bagi si cerdas kinestetik yang dengan gesit menirukan gerakan motorik dalam tarian maupun olah raga.

Mengenali keunggulan diri selalu menjadi tips yang tak lekang waktu. Pertanyaannya bagaimana jika si cerdas numerical harus menyusun ribuan kata untuk laporan penting? Apakah memungkinkan? Apakah kita harus melakukan kompetensi yang bukan kompetensi kita?

Seperti yang kita juga ketahui, bahwa tidak ada jenis pekerjaan tunggal juga tidak ada manusia tunggal. Jangan menjadikan kompetensi unggulan sebagai alasan (meski menarik karena terdengar ilmiah.. hehehe..). Tetapi ada beberapa trik dan yang paling harus disadari adalah diperlukan waktu dan energy yang berlipat dari biasanya. Bagi si numeric, membuat laporan deskriptif mungkin harus menciptakan suasana mental dan mungkin fisik (tempat kerja) yang ?khusus? sehingga bisa berkonsentrasi dan sebagainya. Dialog dengan rekan yang memiliki kompetensi menulis juga akan sangat membantu. Sementara bagi yang sulit bekerja dengan angka, ia pun membutuhkan hal sama.

The Peter Principle mengingatkan kita bahwa untuk terus berkembang, kita harus mengetahui keterbatasan kita. Jika tidak, kita akan terjebak dalam gelembung kebanggaan semu karena merasa telah menguasai skill ini-itu, sementara di luar sana telah berkembang jauh. Mencoba hal-hal baru seperti mempelajari bahasa asing atau memecahkan teka-teki matematika juga mengingatkan kita tentang keterbatasan sekaligus ?menuntun? kita untuk mengatasi keterbatasan hingga meningkatkan bahkan mendapatkan kompetensi baru.

Share this post :

There are 2 comments .

Imam —

saya bingung dengan tulisan ini, ada beberapa hal yang saya kurang setuju, seperti “….setiap individu yang berada dalam susunan hirarki akan bergerak naik menunju ketidakmampuan….”, apakah ini benar? tidak semua individu bergerak naik (baca: mendapat promosi) dan yang mendapat promosi tidak selalu menuju ketidakmampuan, lebih tepat bila dikatakan belum mampu, makanya ia perlu mendapatkan training atau program pengembangan lainnya.

Nah berkaitan dengan Peter Principle, setahu saya ini berkaitan dengan promosi bahwa manajemen tidak bisa serta merta mempromosikan seseorang karena ia memiliki kinerja yang unggul di bidangnya karena ada hal-hal tertentu yang ia tidak miliki. Misalkan trait, yang susah dikembangkan, beda dengan skill yang bisa ditraining atau dikembangkan.

Contoh seorang salesperson yang competence dengan pencapaian sales yang selalu diatas target, begitu dipromosikan menjadi sales manager ternyata tidak sesuai harapan bahkan hasilnya lebih jelek dibandingkan ia menjadi salesperson. Seorang peneliti yang kompeten, begitu ia dinaikkan sebagai pemimpin proyek, gagal total.

Apa penyebab kedua orang ini gagal, sebabnya tidak lain dan tidak bukan karena mereka tidak memiliki karakteristik untuk mempengaruhi dan memimpin orang. Inilah yang dimaksudkan oleh Peter Principle. ketidakmampuan memimpin, bisa berkaitan dengan skil yang kurang (ini bisa dikembangkan). Namun ada hal-hal yang mungkin tidak dimiliki orang tersebut, seperti integrity, courage, good judgment, dll yang dibutuhkan untuk berada dilevel yang lebih tinggi yang belum tentu dimiliki orang tersebut.

Beberapa paragrap tulisan Anda tidak padu dengan judul yang Anda gunakan. Secara keseluruhan, menurut saya ada yang misleading dari tulisan ini. Seperti apa yang Anda maksudkan manusia tunggal? Konsep yang Anda gunakan cenderung bias dan kurang memiliki dasar ilmiah.

Sebaiknya tulisan ini diedit oleh orang yang lebih kompeten secara keilmuan sebelum dipublish.

Reply »
Ardiningtiyas —

Dear Sdr. Imam,

Terima kasih atas pengamatan dan apresiasinya. Kalimat dalam bahasa Inggris tersebut saya kutip tanpa ada edit , memang inilah yang menjadi kontroversi. Dalam satu artikel di psychologytoday juga prinsip ini menggelitik ide lain seperti: “Jika prinsip ini benar, maka departemen sumber daya manusia perlu mencoba sistem promosi secara random” (http://www.psychologytoday.com/blog/work-matters/201010/if-the-peter-principle-is-right-we-should-randomly-promote-people).

Incompetency di sini merujuk pada satu kondisi yang ‘belum pernah’ dilakukan, karenanya digunakan tanda kutip. Seorang salesman, sebelum menjadi supervisor, tentu telah melalui penilaian kinerjanya sehingga dianggap dapat mengemban tanggung jawab lebih luas dan berat. Kenaikan ini membawa salesman tersebut ke dalam satu kondisi yang lebih menantang, seperti memimpin, mengarahkan tim. Beberapa kompetensi yang menjadi syarat dalam level manajer, seperti kepemimpinan juga berpikir stategic yang telah dinilai dalam proses promosi inilah yang kemudian ditantang untuk lebih meningkat. Anda juga benar dalam proses penilaian untuk rekrutmen maupun promosi, trait juga menjadi pertimbangan.

Sementara yang dimaksud dengan kata ‘manusia tunggal’ di atas adalah banyaknya dimensi yang dimiliki manusia dan sangat dinamis, meski memiliki tendensi tertentu yang dapat menjadi profile psikologis.

Terima kasih atas kritiknya, saya minta maaf karena beberapa kata incompetency lalai mendapatkan tanda kutip sehingga bisa menimbulkan interpretasi seperti makna konotasi sama sekali tidak mampu

Salam,
Ardiningtiyas

Reply »

Share Your Thoughts!

Copyright © 2020 Konsultan Karir. All rights reserved.