Refleksi Karier: Pustakawan sekolah harus kreatif!

oleh | 6 December 2013 | 0 Komentar

Sylvia L’Namira: Pustakawan & Penulis

Karir saya dimulai tepat setelah saya dinyatakan lulus kuliah. Itu pun sebenarnya belum bisa dikatakan karir, karena jenis pekerjaannya adalah projek, alias pekerjaan yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Tidak ada kelebihan yang diterima selain gaji dan mobil antar jemput yang setiap pagi membawa saya ke kantor dan sore hari pulang ke rumah. Lumayan sih, kerja tidak pakai ongkos. Gaji hanya untuk makan siang dan sesekali foya-foya bersama teman. Namanya juga masih lajang, sah saja, kan? Tiga tahun saya bertahan dengan pikiran masih banyak waktu untuk mencari pekerjaan lain setelah projek di sini selesai.

Namun ternyata, setelah tiga tahun saya masih tetap di sana, bahkan sampai sepuluh tahun ke depan. Total tiga belas tahun saya mengabdi di sekolah internasional yang sudah membesarkan saya. Saya bekerja sebagai staf perpustakaan dan banyak hal saya pelajari di sana. Saya memposisikan diri seperti spons yang menyerap setiap pengalaman, kejadian, untuk saya simpan dan mungkin berguna di masa depan nanti.

Atasan Inspiratif

Dari sekian banyak pengalaman kerja saya, yang paling saya ingat adalah bagaimana cara atasan saya saat beliau mengajar kemampuan berpustaka, mempromosikan buku koleksi perpustakaan ke siswa sehingga saya bahkan ingin membacanya. Pekerjaan yang tidak seharusnya saya lakukan, seperti memasang peralatan multimedia, saya lakoni dengan harapan skill ini mampu saya gunakan di kemudian hari.

Terbukti, setelah tiga belas tahun mengabdi, dan saya merasa cukup, saya pun mengejar karir di luar. Harapan saya untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi dari jabatan yang lama tercapai. Kalau dulu saya staf perpustakaan, sekarang saya menjadi kepala perpustakaan.

Namun jujur, awal mula diterima masuk ke sekolah ini,saya terkejut setengah mati. Bagaimana tidak, koleksi bukunya sangat sedikit, ditaruh di rak yang seadanya, buku berhimpitan hingga sulit mengambil atau mengembalikannya lagi ke rak, ruangan perpustakaan yang hanya seluas 3×4 meter sangat jauh dari perpustakaan di tempat saya bekerja sebelumnya yang memiliki luas ratusan meter.

Saya sempat berpikir,  “Ini perpustakaan atau gudang buku? Tukang loak juga pasti mikir mau beli buku-buku ini.” Sinis, memang!

Bulan-bulan pertama saya sempat stress, dalam arti semua sangat beda dan jauh dari harapan. Mulai dari jumlah koleksi, kondisi buku, kondisi ruangan, terlebih kepedulian pengelola sekolah terhadap perpustakaan saat itu bisa dikatakan nol. Rasanya ingin kembali ke kantor lama, tapi gengsi dong ah! Belum juga tiga bulan masa sudah minta balik lagi? Harga diri di mana, ya kan? Namun untungnya, berbeda dengan pengelola sekolah, pemilik yayasan justru memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap perkembangan perpustakaan. Di sinilah saya mulai mencoba mengubah kondisi perpustakaan di sekolah ini.

Memaksa siswa meminjam buku

Di mulai dari pindah ruangan ke tempat yang lebih besar, saya menata rak buku dengan hati-hati, agar perpustakaan tidak terlihat terlalu kosong karena rak nya masih sedikit. Pada masa itu, sekolah sering mendapat sumbangan buku bekas untuk koleksinya, dan tahu dari mana buku-buku tersebut di dapat? Dari perpustakaan tempat saya bekerja dulu!

Jadi lucu, dulu saya yang mengatur ke sekolah-sekolah mana buku-buku bekas tersebut didistribusikan. Sekarang, saya yang menampung buku-buku bekas tersebut. Rela? Ya nggak lah! Saya kan maunya buku baru, bukan buku bekas! Minat siswa di sekolah ini untuk membaca buku pun sangat rendah. Mungkin karena bukunya jelek-jelek semua ya? Ya wajar lah.

Hampir tidak ada siswa yang datang untuk meminjam buku. Saya membuatkan jadwal peminjaman di mana mereka wajib datang ke perpustakaan dan meminjam buku. Ya, aneh memang, pinjam buku harus dipaksa. Tapi kalau tidak begitu, mereka tidak akan baca buku. Ingat kan jaman sekolah dulu? Seharusnya pustakawan sekolah saya dulu melakukan ini. Memaksa siswa datang ke perpustakaan itu wajib!

Selain pemaksaan peminjaman, saya juga mengadakan kelas library skill untuk mengajarkan mereka cara berpustaka yang benar. Meniru atasan saya dulu, saya menggunakan powerpoint dan video untuk mempresentasikan pelajaran karena saya tahu siswa akan lebih tertarik dengan presentasi bentuk visual dibandingkan dengan cuap-cuap.

Seiring waktu, koleksi perpustakaan dan rak buku makin bertambah, ruangan juga lebih luas dan lebih menarik, membuat siswa kini menjadikan perpustakaan tempat persinggahan mereka. Mereka mulai meminjam banyak buku tanpa harus dipaksa, karena sekarang buku yang dikoleksi tidak yang bekas lagi, melainkan buku baru yang wangi kertasnya bisa membuat sakaw pustakawan. Oh, I love the smell of new books!

Saat jam istirahat, saat makan siang, saat pulang sekolah, mereka akan selalu menyempatkan diri mampir ke perpustakaan. Bahkan saat mereka malas mengikuti pelajaran olah raga, mereka memilih perpustakaan untuk tempat berteduh dari cuaca panas. Eits, tapi nanti dulu, meskipun saya pustakawan yang baik hati dan tidak sombong, untuk hal-hal seperti itu tidak ada toleransi. “Kembali ke lapangan!” dan sebutan “Miss jahat!” “Miss tega!” pun terdengar merdu di telinga. Kalau nggak jahat, ntar nggak diinget :p

Selepas jam sekolah saya mengadakan kelas origami bagi siswa kelas 1 dan 2 yang keluar kelas lebih cepat dan masih belum pulang karena menunggu kakak mereka yang masih belajar. Tidak setiap hari, karena kemampuan saya juga terbatas. Beberapa kali saya lupa harus melipat bagian mana, saya lari ke komputer untuk mengintip step selanjutnya di web instruksi origami andalan saya. Agak repot  ya? Tapi melihat wajah antusias para siswa, saya tidak keberatan sama sekali.

Memetik buah perubahan

Sekarang, perpustakaan selalu ramai didatangi siswa. Kegiatan sekolah pun kini diadakan di perpustakaan, seperti audisi untuk pertunjukan teater, spelling bee contest, kompetisi matematika, dan lainnya. Belum lagi jadwal mendongeng untuk siswa yang saya adakan sepulang sekolah. Anak mana yang tidak mau dibacakan buku? They LOVE it! Tidak hanya siswa kelas 1, yang sudah kelas 6 pun masih suka dibacakan buku.

Untuk mempromosikan kegiatan perpustakaan, saya membuatkan akun Twitter, juga mengirimkan email newsletter yang aplikasinya bisa didapat secara gratis di www.mailchimp.com. Selain itu saya juga sering mengubah display agar perpustakaan selalu tampak menarik, serta games dengan hadiah buku, yang keduanya bisa didapat idenya dari pustakawan lain melalui internet.

So, buat pustakawan dan calon pustakawan, banyaklah menggali hal baru yang dapat diaplikasikan di dalam dunia kerja. Saya pun masih menggali, dan tidak akan berhenti mencari hal baru. Yuk sama-sama belajar.

lihat profile di http://www.konsultankarir.com/get-help/our-kaka

 

Share this post :

Share Your Thoughts!

Copyright © 2021 Konsultan Karir. All rights reserved.