Jujur atau tidak?

oleh | 19 October 2012 | 2 Komentar

Dear Konsultan karir,

Baru-baru ini atasan saya tidak memperpanjang kontrak kerja saya, saya sangat kecewa tetapi saya harus menerima kenyataan ini. Setelah itu saya melamar pekerjaan dan sudah beberapa kali menjalani psikotest dan interview. Satu hal yg paling membuat saya kesal, ketika HRD/interviewer menanyakan kontrak kerja anda tidak diperpanjang atau Anda memang mau keluar? Di satu sisi saya ingin jujur tapi di sisi lain saya gengsi menyatakan bahwa kontrak saya tidak diperpanjang. Pada akhirnya saya bilang bahwa memang jauh-jauh hari saya ingin menyudahi kontrak kerja saya. Yang ingin saya tanyakan apakah efeknya bila saya mengatakan bahwa kontrak kerja saya tidak diperpanjang dan bagaimana caranya agar saya bisa menyatakan hal yang jujur kepada HRD/interviewer?

Thanks & Regards

Devi

Dear Devi,

Kekesalan Anda bisa dipahami, namun terlepas dari memberikan penjelasan atau jawaban ke HRD/interviewer, Anda perlu memahami mengapa atasan/perusahaan sebelumnya tidak memperpanjang kontrak. Ada beragam alasan, di antaranya peraturan/ kebijakan yang terkait dengan kebutuhan tenaga kerja, misalnya personil front liner yang harus berganti tiap dua tahun sekali untuk menjaga suasana pelayanan. Peraturan semacam ini pun berlaku di beberapa posisi atau pola kerja seperti alih daya/ outsourcing. Selain penjelasan objektif ini, perluas dengan analisa mandiri tentang kinerja selama ini, seperti kurangnya pemenuhan target kerja atau hal lain dalam operasional sehari-hari.

Mengapa Anda memerlukan pemahaman ini? Karena semakin kita menyangkal, semakin sulit kita menerima dan memahami, sehingga semakin sulit pula langkah ke depan. Kesulitan yang akan dihadapi, tidak selalu berbentuk konkret seperti sulitnya menjelaskan pertanyaan pewawancara/atasan/rekan di tempat kerja baru, melainkan perasaan tidak nyaman pada diri sendiri. Surat Anda menunjukkan kekesalan tidak hanya pada atasan namun juga pada diri sendiri, kekesalan yang belum terurai mengapanya. Cobalah mulai secara positif dan temukan jawabannya.

Dalam interview, pertanyaan dan penjelasan isu ini penting, karena interviewer perlu mengetahui bagaimana seseorang menyikapi hal yang kurang/tidak menyenangkan, baik kesalahan/kegagalan diri sendiri, maupun yang disebabkan karena situasi (misal pengurangan tenaga kerja karena krisis) dsb. Bukankah ke depannya, hal-hal kurang menyenangkan akan mungkin terjadi lagi, termasuk di perusahaan yang baru. Inilah pentingnya pewawancara mendapatkan gambaran tentang cara Anda menyikapi hal buruk. Anda tidak perlu berpura-pura untuk tidak kesal, namun ceritakanlah secara analitis dan dengan sikap yang positif, termasuk jika Anda membuat kesalahan/ kurang optimal di perusahaan sebelumnya.

Konsekuensi/resiko tidak mengatakan yang sebenarnya, di antaranya adalah sikap tidak nyaman-yang akan mudah dikenali/terungkap oleh interviewer berpengalaman. Mohon diingat pula, bahwa tiap industri tidak berdiri sendiri atau memiliki jejaring kerja. Ada kemungkinan pula HRD melakukan periksa silang ke perusahaan terdahulu, termasuk untuk mendapatkan gambaran tentang diri dan kinerja Anda dari atasan sebelumnya. Untuk itu, bangunlah integritas sejak dini, untuk modal karir ke depan.

Kami percaya Anda ingin membangun integritas diri sejak awal, jika tidak, Anda tidak akan resah dengan isu ini 🙂 Semoga bermanfaat, terima kasih.

Salam,

Tim Konsultankarir.com

Share this post :

There are 2 comments .

syukri —

Mohon maaf sebelumnya, kalo saya yang jadi penanya saya tidak puas dengan jawaban yang diuraikan di atas, karena di sini goal point-nya penanya bertanya jawaban apa yang paling tepat dan membawa hasil yang positif dari interview tersebut, bagaimanapun juga pertanyaan interviewer mengenai kontrak yangg tidak diperpanjang akan menjadi buah simalakama, jujur salah bohong malah tambah salah, di sisi lain perusahaan pasti tidak akan menggunakan calon karyawan yang punya track record kurang bagus di tempat kerja sebelumnya jadi alangkah lebih baik jika langsung diberikan pola jawaban yang paling benar terhadap pertanyaan dari interview tersebut, terima kasih

Reply »
Tyas —

Dear Sdr.Syukri,

Tentu Anda bisa memiliki pandangan yang berbeda, namun kami menyarankan kejujuran. Yang kemudian menjadi perhatian perusahaan/pewawancara adalah apakah kandidat mampu mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut. Kandidat yang mampu menerima pengalaman kurang menyenangkan cenderung mampu bercerita secara terbuka, menganalisis secara jelas terkait rencana karir ke depan, termasuk ‘menertawakan’ diri sendiri.

Beberapa pewawancara justru menggunakan teknik interview high point dan low point. High point bermaksud menggali pengalaman kesuksesan kandidat, sementara low point sebaliknya. Penekanannya di sini adalah bagaimana kandidat menjalani prosesnya dan sesudahnya. Memang tidak semua kandidat mampu mengapresiasi diri sendiri dengan alih alih menjawab “Ah…biasa saja Bu/Pak” atau “Semua target terpenuhi, lancar-lancar saja”. Untuk itu, tidak jarang pewawancara mengubah pertanyaan dengan meminta kandidat membuat rangking kesuksesan dari 1-10, kemudian meminta kandidat untuk menceritakan kesuksesan rangking satu dan rangking sepuluh.

Silahkan Anda mempertimbangkan kembali konsekuensi jangka panjang untuk karir dan diri sendiri, terima kasih atas komentarnya 🙂

Salam,
Tim Konsultankarir.com

Reply »

Share Your Thoughts!

Copyright © 2020 Konsultan Karir. All rights reserved.