Meniti Sebatang Bambu

oleh | 30 November 2009 | 5 Komentar

oleh Winda Mustari (Pemenang Favorit Juri – Share Your Career Story)

Tinggal di Jakarta

Mengapa meniti sebatang bambu? Seperti itulah perasaan saya saat mulai meniti karir di belantara metropolitan. Batang bambu yang bulat, tipis dan memanjang terbentang diatas sebuah aliran sungai kecil adalah jembatan sederhana pertama yang harus saya (dan mungkin juga Anda) lalui saat lulus sekolah.

Jika terpeleset kita akan tercebur dan berenang mengarungi arus. Pun jika berhasil tiba di seberang, kita tak pernah tahu apa yang sesungguhnya menanti kita. Mungkinkah ladang gandum yang masak dan siap panen? Ataukah hutan gundul yang kering dan gersang? Atau justru kebun buah-buahan segar aneka rupa yang siap dipetik ? Who knows? But here we go!…

Empat belas tahun silam, tak ada minat saya sedikitpun pada gemerlapnya metropolitan. Saya bukan jenis ngengat yang mudah tertarik pada terangnya sinar lampu taman. Saya pikir saya adalah ngengat cerdik yang tahu betul bahwa terang dan panasnya sinar lampu dapat menyengat dan mematikan.

Namun seorang pariban memaksa saya untuk menemaninya hidup dan menetap di gemerlap kota sejuta lampu.

“Kau cobalah dulu! Jika kau tak suka bolehlah kau pulang kampung menjadi petani! Tak ada keharusan kau menetap disini! Cobalah peruntunganmu!”

It’s not a matter of losing or winning, it’s a matter or experiencing the thrill. Kurang lebih demikianlah barangkali maksud himbauan beliau kepada saya.

Ya sudahlah, mengapa tidak? Mumpung usia belum terbilang renta, tulang belum tiba saat merapuh dan otot masih kencang, why not? Hidup hanya sekali, mengapa membuang diri dengan naik kereta api sedangkan jet coaster ada di depan mata.

Saat pertama kali bekerja, saya memperoleh jabatan sebagai junior secretary di sebuah gedung pencakar langit di bilangan Sudirman. Waduh, bangganya!

Mengenakan mini skirt dan stocking hitam, bergelantungan pada bis kota, terdesak dan terdorong kesana kemari, sesungguhnya sedikit mengikis harga diri saya. Namun saya yang mulai terkontaminasi menjadi ngengat penyuka sinar terang, semakin yakin pada diri saya sendiri. Bahasa kerennya, makin pede! Saya yakin akan tampil paling aksi dan bergaya, setidaknya dibandingkan dengan Rotua, kawan sedesa saya!

Hari itu ketika saya menerima kontrak kerja dan membawanya pulang ke rumah, pariban saya mempelajari kontrak tersebut dan memutuskan bahwa saya harus belajar mengenai bargaining power.

“Kau harus meminta uang transport lebih dari sejumlah ini, Butet! Coba kau hitunglah, ongkos bis-mu saja untuk bolak-balik selama sebulan sudah lebih dari setengah pendapatanmu. Manalah kaucukup untuk makan dan membayar biaya hidupmu selama menetap disini!”

Jadi sesungguhnya niat mulia pariban tak lain dan tak bukan hanyalah juga untuk memperoleh tambahan uang kontrakan. Mengapa scenario semacam ini tampaknya sudah acapkali saya dengar?

Kala itu sesungguhnya ciut nyali saya untuk meminta tambahan ongkos lebih dari yang tertera, saya masih buta aksara dan wicara dunia kerja. Namun pariban saya yang gemuk-tambun rupanya berbeda pendapat dan yakin bahwa saya harus angkat bicara.

Dengan takut-takut saya memohon pada juragan agar pendapatan saya ditambah, setidaknya untuk penutup ongkos kerelaan saya berasam keringat dalam bis kota dengan stocking hitam yang tersohor tersebut diatas.

Juragan marah besar kepada saya.

“Mengapa kau setuju berkerja, jika pada awalnya kau sudah tahu bahwa nilai kontrakmu adalah ongkos daripada kau menganggur? Mengapa kau membuang waktuku dengan menerimamu bekerja, lalu mendadak kau merasa cukup pantas memperoleh lebih dari yang seharusnya? Siapa kau ini?”

Dengan terbata-bata, saya mencoba menjawab.

“Diam!”

Ujarnya angkuh sambil menggebrak meja, seakan-akan saya hanyalah seekor tikus rumah yang mengendusi keju basi miliknya. Dandanan wanita executive kaya terpelajar yang dimiliki oleh atasan saya yang pertama itu bagi saya tak lebih dari kostum nenek sihir !

Maka resmilah saya resign dihari kedua saya bekerja pada kantor pertama yang menerima saya sebagai pekerja.

Kantor berikutnya tempat saya bekerja adalah sebuah ruko tiga lantai. Disitu saya bekerja sebagai sekretaris perusahaan kosmetik merk ?berusaha terkenal’ yang terletak di lantai dua, sementara lantai satu ditempati oleh perusahaan cicilan panci.

Untuk mencapai kantor itu saya harus naik angkutan umum sebanyak tiga episode. Mula-mula saya harus naik angkot ke Tanah Abang, kemudian dari situ saya harus naik angkot jurusan Gajah Mada. Setibanya di daerah Gajah Mada, saya kemudian menyebrang jalan raya bersama beberapa ?orang susah’ lainnya. Lalu berjalan kaki menyusuri sebuah ?gang senggol’ untuk kemudian disambung dengan naik ojeg.

Pada hari ketiga saya bekerja, ketika saya tiba di tempat tujuan, saya langsung disodori kemoceng oleh ibu mertua boss saya yang kebetulan juga tinggal di lantai tiga ruko tersebut.

“Nak, setiap pagi tolong kau bersihkan kaca jendela ini sebelum mulai bekerja, ya! Banyak sekali debu diruangan kantor ini.”

Dan dengan penuh percaya diri, sang ibu mertua menunjukkan pada saya, sudut-sudut jendela mana saja yang harus saya jangkau dan bersihkan dari debu yang menempel!

Setelah genap sebulan, saya berpindah lagi untuk bekerja disebuah bank swasta. Kali ini harapan saya berbunga indah, karena bekerja di bank dengan busana rapi dan trendy adalah impian saya. Tampil cantik kemayu bersanggul mungil dan stocking hitam adalah cita-cita sederhana dalam dunia karir saya!

Sayangnya impian semusim saya harus pudar saat menyadari bahwa ternyata bank tersebut dikelola dengan gaya family management. Entah bagaimana standar perekrutan karyawan, yang jelas telinga saya sakit saat mendengar teller di front office berteriak pada office girl kantor.

“Mbak Nuuur!… Pergi Photocopy kemana sih? Bogor ya?! Diminta tolong untuk membuat photocopy saja kok lama sekali!” Dan hal itu dilakukannya didepan sejumlah customer bank yang masih mengantre!

Setelah tiga bulan berkenalan dengan bab politik kantor yang berbau busuk, dan membuat sedikit kericuhan karena bertengkar dengan seorang pegawai pria yang kampungan, akhirnya saya memutuskan untuk mencari pekerjaan di tempat lain, again!

Kali ini tampaknya bintang terang saya mulai bersinar. Saya diterima bekerja di sebuah perusahaan vocational training berskala international.

Execustive Director di tempat saya bekerja adalah seorang wanita Eropa yang sangat baik dan berdisiplin tinggi. Di kantor ini saya banyak menyerap ilmu-ilmu bidang perkantoran.

Saya belajar manajerial kantor secara sederhana, saya juga dapat menerapkan ilmu accounting saya pada pekerjaan yang saya geluti. Selain itu saya juga banyak mendapatkan training tambahan seperti time management, filling system dan customer service.

Rupanya waktu selama satu tahun tiga bulan membuat saya merasa mumpuni dan tinggi hati. Dengan perasaan angkuh burung kecil yang baru saja bisa terbang, saya sudah kembali melamar pekerjaan di perkantoran elite segitiga emas.

Satu hal yang saya pelajari dari lompatan kutu saya kali ini adalah bahwa pekerjaan dan karir juga bersifat home sweet home. Pekerjaan dan karir memiliki ruang serta lingkungan kondusif tersendiri yang tidak sama bagi setiap orang.

Kecocokan antar rekan kerja, kekompakan teamwork, management yang transparan dan adil, serta karakter perusahaan itu sendiri adalah hal penting yang harus kita perhatikan disaat kita berpindah kerja. Bekerja pada perusahaan profit oriented dan non-profit oriented sangatlah berbeda!

Lantai sembilan belas gedung perkantoran elite yang megah ternyata tak mampu menggantikan kenangan manis saat saya berkantor di lembaga vocational training yang sebelumnya. Suasana kerja yang sangat individualis, saling sikut-menyikut, sikap kasar dan arogan dari para atasan serta senior, membuat saya muak dan lelah. Saya tiba pada titik terendah dalam perjalanan jet coaster yang saya tumpangi.

Selama bekerja di perusahaan tersebut banyak hal-hal aneh yang tidak sesuai dengan hati nurani harus saya kerjakan. Diantaranya adalah melakukan pembayaran ?kick back’ kepada ?orang dalam’ yang memenangkan tender perusahaan. Kemudian juga sebisa mungkin saya harus menunda cairnya check pembayaran kepada sejumlah supplier.

Atasan saya berpendapat semakin licik dan cerdik seseorang yang bekerja dalam bidang keuangan, semakin cepat kaya dan naik pamornya sebagai seorang ahli di bidang keuangan! Saya sungguh merasa heran atas pendapat picik beliau, namun sebagai bawahan saya hanya dapat mengamini.

Selama dua bulan bekerja, saya merasa bak tersiksa api neraka. Berbagai kutuk serta hujatan mampir ke telinga saya. Selama bekerja disitu, saya merasa diri saya adalah orang terbodoh di dunia. Apapun yang saya kerjakan adalah salah di mata atasan dan senior saya.

Beberapa kali saya dipanggil ke ruang atasan dan dicuci otak, agar sekeluarnya saya dari ruangan itu saya dapat memiliki senyum sinis dan mata licik yang sama seperti beliau. Sayangnya saya tidak bisa! Saya manusia, bukan siluman ular!

Hari ini sudah hampir dua belas tahun lamanya, saya bekerja di kantor saya yang terakhir, sebuah perusahaan swasta berskala international yang bergerak di bidang pendidikan. Di perusahaan non-profit oriented ini saya mengasah segala kemampuan dan daya upaya terakhir saya untuk tetap exist di dunia kerja.

Sebagai ngengat kecil, saya masih mencoba bertahan terbang mengitari lampu taman yang dulunya tidak pernah saya inginkan itu. Saya juga masih terus belajar mengatur jarak terbang agar saya tak terhisap terangnya cahaya lampu dan mati tersengat panas!

Selama hampir dua belas tahun ini, saya belajar menjadi pribadi yang lebih baik, belajar menjadi bagian dari team work, belajar berkomunikasi dengan pantas dan tepat, belajar untuk mencoba menampilkan yang terbaik dari diri saya sebagai seorang pekerja kantoran.

Dan tentu saja selama empat belas tahun ini sudah tak terhitung banyaknya ilmu dan ketrampilan yang telah saya peroleh dan kuasai. Saya, si Butet dari kampung Simalungun, sudah berevolusi menjadi robot nine to five!

Lalu apakah saya sudah memperoleh apa yang saya inginkan? Apakah ini karir dan kemapanan yang diimpikan oleh semua ngengat?

Saya mungkin telah melalui sebuah titian bambu diatas sungai kecil, tetapi saya masih ingin meliwati jembatan gantung diatas sungai yang lebih besar. Dan suatu hari kelak saya akan pergi berlayar ke seberang laut dengan rakit yang akan saya buat sendiri!

Share this post :

There are 5 comments .

minanu

Saya sangat yakin bahwa keberhasilan dalam karir bisa diraih tanpa menjadi “drakula”.
Dan saya sangat senang membaca cerita karir anda bahwa anda lebih memilih menjadi manusia daripada “siluman ular”

saya juga pernah merasakan menyengatnya bau politik kantor selama 6 bulan, dan akhirnya keluar dan sekarang berkeuh keuh ria dengan usaha sendiri walau lebih kecil

seperti cat women bilang freedom is power

Reply »
winda —

Terima Kasih – tetap semangat ya….dalam meniti karir di manapun, walaupun usaha sendiri juga namanya karir…kan harus berjenjang ada peningkatan ke arah yang lebih baik?? ; )

Reply »
Dewi Sulistiono —

To Lead is Truly to Serve. Energy motion (emotion) nya diarahkan ke energy kasih, yaitu dengan melayani dengan ikhlas dan gembira…nanti rejekinya datang sendiri sebelum sempat meminta. (tidak harus datang dari tempat gawe sih karena bisa dari tempat yang tidak di duga)…/dewi

Reply »
audy —

very simple to read.. tau2 udah the end..:) Dari awal sampai akhir senyum simpul ga lepas dari bibirku, menghibur sekali dan pastinya banyak yang merasa sebagai ‘saudara senasib’..:)
Bravo winda, ditunggu karya selanjutnya.. “sampai ketemu diseberang lautan”.

Reply »
winda —

Hai Mba Dewi & Audy – Thanks yaaa…. You’re all my inspiration! Kudu kasi tahu ke semua temen-temen pekerja se-Indonesia, bahwa co-worker/colleagues/temen sekantor seperti kalian-kalian ini yang bikin seseorang bisa tetap loyal, bertahan dan bahagia di tempat kerja — Bukan Boss, Bukan Duit dan Bukan Benefit….tapi keakraban dan kebersamaan sebagai sahabat senasib di tempat kerja…Many thanks!!..

Reply »

Share Your Thoughts!

Copyright © 2021 Konsultan Karir. All rights reserved.