When Career and Social Media Collides

oleh | 22 December 2009 | 0 Komentar

Menarik juga ternyata karir juga telah bertabrakan dengan social media. Bagaimana ceritanya? Tulisan di bawah ini dikutip dari blog Virtual Consulting atas ijin penulisnya:

Perkembangan situs-situs jejaring sosial (Facebook, Twitter, dll) telah begitu maraknya, sehingga sulit rasanya mengabaikan keberadaan situs-situs itu atau memisahkannya dari kehidupan kita sehari-hari. Eksistensi social media telah berbenturan dengan aspek kehidupan kita yang lain, salah satu yang paling terpengaruh adalah karir.

Bagaimana karir dan social media saling berbenturan? Setidaknya inilah beberapa hal di dunia karir yang menunjukkan besarnya pengaruh social media tersebut:

1. Rekrutmen. Social media telah hadir dan mengguncang dunia rekrutmen. Saat ini, praktisi HRD mau tidak mau harus mengakrabi social media. Mereka dapat menggunakan social media untuk menunjang pekerjaan mereka, misalnya: mengiklankan lowongan melalui situs-situs jejaring sosial tersebut, atau melakukan background check terhadap kandidat melalui keberadaannya di situs-situs tersebut. Seorang praktisi HR pernah berkata pada saya, “Saya sekarang tidak hanya mengandalkan resume dan psikotest yang dilakukan pada kandidat, tetapi saya juga cek Facebook seorang kandidat. Dari Facebook saya dapat mengetahui banyak hal, misalnya: bagaimana kebiasaan kandidat tersebut, apakah dia akan cocok apabila bekerja dengan perusahaan kami.”

Melihat perkembangan itu, maka sebagai seorang kandidat (job seeker) atau siapa pun yang berharap mendapatkan peningkatan karir, sebaiknya jeli memanfaatkan social media untuk personal branding. Hati-hati dengan apa yang Anda publish, karena Anda tidak tahu siapa yang sedang membacanya.

2. Social Media Policy. Saat ini, pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 45 juta orang, dan lebih dari 6 juta orang menggunakan Facebook. Sebagian besar di antara mereka adalah karyawan. Tidak jarang malah, Facebook adalah situs web pertama yang dibuka karyawan begitu tiba di kantor. Melihat perkembangan tersebut, belakangan ini perusahaan merasa perlu menerapkan kebijakan resmi, agar aktivitas karyawannya tidak merugikan citra perusahaan, malah sebaliknya.

Karena karyawan mewakili dirinya sendiri dalam situs-situs social media tersebut, terkadang karyawan tidak menyadari apa yang dipublikasi olehnya dapat berpengaruh terhadap citra perusahaan. Beberapa perusahaan di Indonesia telah mulai membuat kebijakan resmi untuk mengurangi dampak negatif aktivitas karyawan di social media.

3. Munculnya profesi-profesi baru. Maraknya social media juga melahirkan beberapa profesi baru di dunia karir, misalnya sekarang sudah banyak perusahaan yang memiliki jabatan Head of Social Media, atau Social Media Manager, atau Social Media Community Manager. Tugas utamanya adalah mengelola aktivitas perusahaan di social media dan meningkatkan citra perusahaan melalui aktivitas tersebut. Kualifikasi orang yang dicari pun aneh-aneh, tidak lagi seperti kualifikasi yang sering kita baca di iklan-iklan lowongan di surat kabar.

Misalnya:

someone who is addicted to the conversation and will be around on the weekends to approve comments, continue discussions and put out fires when needed. 9 to 5 ers need not apply. Make sure they have a thick skin. When you’re managing a community, attacks will come and someone will always have a problem with what you’re doing.

Do you tweet and use Facebook every day, all day? Is building social community so ingrained you just can’t stop? Do you take pride in customer service excellence and fancy yourself an entrepreneur? Do you understand the difference between a “brochure website,” a “publication” and why feeds are important?

Dan masih banyak contoh yang lain. Bermain-main di social media bukan lagi mainan, tetapi lama-lama akan menjadi sebuah skill yang dicari. Apakah perusahaan Anda sudah punya?

4. Pergeseran peran dan job description pada beberapa posisi. Yang ini masih berkaitan dengan yang atas. Di beberapa posisi, terutama yang berhubungan dengan marketing communications telah terlihat pergeseran peran dan job description yang signifikan. Misalnya saja, saya mengenal seorang teman yang bekerja di bidang akuntansi. Gara-gara aktif nge-twit, perusahaan memindahkan dia ke bagian Marketing. Orang-orang di divisi Marketing ini bisa menjadi kurang penting pada suatu saat ketika social media menjadi semakin penting, apabila mereka tidak ‘pintar’ bersosialisasi di social media. Ketika tren ini makin membesar, pada akhirnya, apa yang diperlukan untuk sukses dalam beberapa profesi akan mengalami pergeseran.

Setidaknya beberapa hal di atas yang saya amati, yang menggambarkan tabrakan antara karir dan social media. Silakan apabila ada yang ingin menambahkan.

Share this post :

Share Your Thoughts!

Copyright © 2023 Konsultan Karir. All rights reserved.