Man in The Mirror

oleh | 7 December 2009 | 0 Komentar

Pria itu jelas bukan orang Asia apalagi Indonesia, meski tingginya tidak mencapai 170cm. Pagi itu ia bersama dua orang timnya mengunjungi satu kantor di Jakarta untuk mempresentasikan suatu produk. Ketika berbicara, tahulah kita bahwa ia dari daratan Eropa, tepatnya Belgia. Aksennya tidak Amerika, namun tidak terlalu British sehingga masih terdengar ringan di telinga Indonesia. Ia memaparkan keunggulan produk dan jaminan distribusi yang telah sistematis ke beberapa negara termasuk kawasan Asia. Sebagai penanggung jawab di Asia, ia menjamin ketersediaan dan kelancaran jalur distribusinya.

Ia berjalan hampir ke segala arah, memastikan menyapa semua audience dengan senyum dan bahasa tubuh penuh antusias. Ia menanggalkan semua ?ancaman? ?Harus pesan produk lho…? yang menjadi stereotipe orang marketing. Seusai presentasi, dengan ringan ia melenggang ke tengah audience untuk menjawab pertanyaan dan menunjukkan contoh dalam brosur. Nuansa arisan atau reuni sepertinya lebih tepat mewakili ketimbang presentasi produk.

Kesan Eropa yang biasanya sophisticated tidak nampak di dirinya, bahasa tubuhnya bahkan ?lebih Asia? dibanding timnya yang orang Indonesia

Pengalaman hampir serupa juga terjadi di satu ruangan seminar hotel berbintang empat di tengah Jakarta. Sambutan kopi hangat dan cemilan sambil menanti dimulainya seminar adalah biasa, namun tidak pagi itu. Dalam rumpian peserta, tiba-tiba menyeruak seorang bule yang mendatangi setiap meja, menyapa dan berbincang ?Hallo, how are you today?? ?What do you think about..? ?Have you ever heard..?. Hampir semua peserta terlihat kaget mendapatkan ?interupsi? menyenangkan itu

Ice breaking dan mapping telah dibangun sebelum acara berlangsung oleh aktor utama seminar.

Semangat ini pula yang saya lihat pada seorang pelayan restorasi kereta api. Usianya mungkin baru memasuki 20 tahun, dengan seragam oranye segar, ia menyapa dan menawarkan daftar makanan-minuman untuk dipesan penumpang. Nadanya begitu lepas, pun ketika keliru mengucap ?Pagi ..eh malam..hehehe.? Rona wajahnya begitu bersinar, mengimbangi kelincahan langkah kakinya yang seolah menafikan tempat pijak di atas kereta yang melaju kencang. Ia pasti telah seharian berjalan dari satu gerbong ke gerbong lain, dan masih penuh ceria!

Ia tidak menjadi robot yang mengeluarkan rentetan suara ?Selamat pagi, ada yang bisa dibantu, kami memiliki menu spesial yang bisa dipesan untuk empat orang ditambah bonus minuman spesial, ada juga….? tanpa interaksi emosi dengan pelanggan, tanpa ada nafas jeda, hanya ada target penyampaian materi lengkap

(Semangat) Pelayan restorasi itu adalah aset yang sangat bernilai, termasuk untuk perkembangan diri dan karirnya ke depan

Semangat itu menjalar, membuat saya tak sabar ingin bertemu rekan kerja untuk menyelesaikan pekerjaan, merancang program, bertukar ide, berdiskusi diselingi rumpi politik hingga film. Dalam pertukaran ide di kantor, di ruang chatting atau pesan singkat di seluler, energi positif begitu melimpah dalam ketulusan dan semangat komitmen bersama untuk melukiskan pelangi karir diri

……dan mungkin bisa memercikkan juga mengundang senyum orang lain.

Seperti dituliskan Taufiq Pasiak dalam Unlimited Potency of Brain (lihat Resensi KK), terdapat sel otak yang mampu meniru dan merefleski secara otomatis stimulus yang tertangkap. Itulah sebabnya, kita bisa ikut menangis mendengar lagu sedih, tertawa melihat orang lain tertawa, bahkan menguap

?Enthusiasm will attract enthusiasm

?If you wanna make the world a better place, take a look at your self then make a change? (Man in the mirror ? Michael Jackson)

Share this post :

Share Your Thoughts!

Copyright © 2023 Konsultan Karir. All rights reserved.