Delapan Mitos Generasi Y yang memusingkan Manager

oleh | 22 December 2010 | 0 Komentar

?Doesn?t every new generation of young workers irritate the older, more experienced ones??

? Bruce Tulgan, 2009

Pertanyaan tentang usia menjadi isu yang cukup sensitif. Buktinya, kebanyakan orang akan mendahului dengan kata ?Maaf? sebelum berlanjut pada ?Sekarang usia Anda berapa??, atau kalimat tebak-tebak buah manggis yang terlontar, ?Eh, kamu angkatan berapa sih SMA nya?? Selanjutnya mesin di sel kelabu penanya yang langsung berhitung. Untuk yang telah akrab dengan pertanyaan ini, tentu akan tersenyum simpul sambil menyebutkan angka ..?Angkatan 94..? atau lainnya.

Permainan tebak usia di atas bisa lebih seru dengan pertanyaan, ?Generasi Y atau X?? Ooopsss? jangan salah melemparkan pertanyaan ini ke Baby Boomers ya. Ada beberapa kategori, namun yang cukup sering digunakan adalah; Baby Boomers lahir antara 1946 ? 1964, selanjutnya merupakan Generasi X dan berakhir di tahun 1977, sementara Generasi Y lahir antara 1978 ? 1990 dan Generasi Z lahir antara 1991 ? 2000.

Generasi Y yang sedang banyak-banyaknya memenuhi lapangan kerja atau usia produktif telah mendapatkan beberapa mitos negative. Mitos yang berawal dari kesalahpahaman dengan generasi di atasnya: Generasi X. Siapa sebenarnya Generasi Y?

Masa kecil Generasi Y di tahun 1990 dan memasuki usia dewasa pada awal pergantian millennium, sebuah era yang penuh dengan ketidakpastian. Globalisasi, teknologi, gonjang-ganjing institusi negara, gelombang informasi (internet mulai hadir secara dinamis di berbagai negara), tumbuhnya kedekatan interaksi personal, dan dari semua itu, generasi ini disebut sebagai a true generational shift. Generasi yang banyak mengalami transisi dari informasi, teknologi hingga pergolakan social ? politik.

Latar belakang ini yang membuat Generasi Y akrab dengan ketidakpastian. Mereka tidak terlalu terusik dengan kecepatan interaksi dan beragam jenis orang yang terlibat di dalamnya. Perubahan teknologi tidak membuat mereka merasa kecil, sebaliknya lebih saling terhubung dan powerful. Generasi Y juga senang mencoba meraih sebanyak mungkin pengalaman dan sumber daya sebisa mereka. Ini juga yang membuat mereka terlihat tidak sabar.

Perhatikan opini Generasi Y dalam interview oleh Tulgan dalam bukunya Not Everyone Gets A Throphy (2009),

?I know they think they are masters of the universe, but, gee, the Soviet Union disappeared overnight, so could they?

?They keep telling me, ?This is what you get in five years, ten years, twenty years.? I feel like ? what?s that expression ? they are trying to sell me a bridge?

Generasi Y mempertanyakan kemapanan, bahkan otoritas, dua hal yang sering membuat pusing kepala para pemimpin dan manager dalam menangani atau tepatnya berurusan dengan mereka. Tulgan dalam bukunya mengangkat mitos seputar Generasi Y berikut realitanya sebagai berikut;

Mitos 1: mereka tidak loyal dan tidak memiliki komitmen dengan perusahaan. Realitanya: mereka bisa sangat loyal, namun tidak dalam kerangka kesetiaan pada kerajaan atau kesetiaan buta terhadap hirarki dengan pengawasan ketat dan bersabar untuk penghargaan. Mereka menawarkan kesetiaan transaksional, seperti hal nya loyalitas konsumen atau klien yang bergantung pada sejauh mana atasan (generasi seniornya) mampu menegosiasikannya. Tulgan menyebutnya dengan ?just in time loyalty?

Mitos 2: mereka tidak bersedia melakukan pekerjaan ?sulit?. Realitanya: mereka sangat ingin membuktikan diri kepada orang lain, sehingga bersedia melakukan ?apapun?. Namun, mereka tidak ingin melakukan sesuatu tanpa adanya pertukaran yang jelas, seperti penghargaan yang dijanjikan dalam waktu lama.

Mitos 3: mereka tidak tahu banyak dan hanya memiliki rentang perhatian pendek. Realitanya: mereka mungkin tidak memperlakukan pengetahuan seperti orang yang memperlakukan pendidikan seperti ‘apa adanya’, namun mereka memiliki banyak informasi di kepala dan di ujung jarinya. Mereka berpikir, belajar dan berkomunikasi dengan pola lingkungan informasi saat ini.

Mitos 4: mereka ingin di puncak dalam satu hari. Realitanya: mereka ingin memberikan efek. Mereka ingin mengidentifikasi masalah yang tidak dapat dilakukan orang lain. Mencoba membuat segala sesuatunya ?menyenangkan? dan lebih baik.

Mitos 5: mereka ingin bersenang-senang dalam bekerja. Realitanya: mereka tidak ingin dianggap main-main, namun serius melakukan pekerjaannya. Pada saat yang sama, mereka tidak ingin terlalu terikat, mereka ingin belajar, merasa tertantang dan memahami interaksi antara pekerjaan dan seluruh misi atau tujuan organisasi/perusahaan. Mereka mendambakan bekerja dengan orang yang baik dan memiliki fleksibilitas di mana, kapan dan bagaimana mereka bekerja.

Mitos 6: mereka tidak peduli dengan proses menapaki tangga karir. Realitanya: pola karir mereka akan tidak terduga dan berbeda (mengejutkan), yang sama sekali tidak berarti tidak mengalami kemajuan atau berkembang. Alih-alih menapaki tangga karir, mereka memilih untuk membuat tapestry ? seperti rajutan yang tidak mudah ditebak.

Mitos 7: mereka tidak menghormati orang lebih tua. Realitanya: mereka tumbuh dengan kedekatan dengan orangtua yang tidak dimiliki oleh generasi lain. Mereka menghormati orang lain (senior), dan mereka memerlukan hal yang sama.

Mitos 8: mereka hanya mau belajar dari computer. Realitanya: benar bahwa mereka cenderung lebih mudah mempelajari hal-hal melalui computer, tetapi jelas memerlukan sentuhan personal seperti coaching, support , petunjuk dan berbagi.

Mungkin Anda adalah Generasi Y yang sering dikeluhkan oleh para senior, atau sebaliknya. Jika generasi sebelumya memandang otoritas dan tugas secara hirarki yang juga terbiasa menerima perintah secara linier, maka generasi ini menginginkan sentuhan personal. Merebaknya sosial media menjadi salah satu bukti, di mana mereka sangat menyukai interaksi langsung dan personal. Media ini tidak sekedar ajang untuk menampilkan identitas personal seunik mungkin, melainkan juga kebutuhan untuk berinteraksi setiap saat tanpa terbatas oleh jarak. Pola ini juga memungkinkan mereka akrab hampir dengan semua usia dengan perlakuan ‘sama’ di dunia digital. Hal ini karena sejarah mereka yang biasa berinteraksi dekat bahkan egaliter dengan para orangtua. Sementara Generasi X tumbuh oleh Baby Boomers yang berada pada era ?kerja keras? sehingga tidak memiliki kedekatan dengan orangtua seperti Generasi Y. Tahun-tahun mendatang, generasi ini akan semakin menapaki ‘baris depan’ dengan tantangan dari generasi adiknya yakni Generasi Z.

Realitanya, memang mengubah mitos yang nampaknya lebih sering terlihat kasat mata ini tidak semudah menuliskannya di layar monitor. Tetap saja akan terasa menjengkelkan dan mengesalkan, meski sebenarnya juga dapat menggelikan bagi kedua generasi. So… No challenge No fun … 🙂

Semoga bermanfaat.

Sumber: Tulgan, Bruce (2009) Not everyone gets a trophy ? how to manage generation Y. San Fransisco; Jossey-Bass, A Wiley Imprint.

Share this post :

Share Your Thoughts!

Copyright © 2023 Konsultan Karir. All rights reserved.